All for Joomla All for Webmasters
admin@school-of-universe.com
0251 860 3233    
0856 8080 868
slide01
slide02
slide03
slide04
slide05
slide06

Kerjasama Universitas Indonesia dan SOU dalam Edukasi Energi Terbarukan

Universitas Indonesia dan Sekolah Alam School of Universe-Parung Bogor bekerjasama dalam edukasi peran nanosain dan teknologi untuk energi terbarukan bagi siswa-siswi sekolah

 

Sebuah kegiatan yang unik di dalam konteks pendidikan/edukasi anak-anak bangsa telah dilakukan bersama antara Universitas Indonesia (UI) dan Sekolah Alam School of Universe (SoU). Pelaksanaan kegiatan ini dilakukan oleh Departemen Teknik Metalurgi dan Material Fakultas Teknik Universitas Indonesia (DTMM-FTUI) di bawah sub-organisasi Nano Research Society FTUI yang dibimbing oleh Prof. Dr. Ir. Akhmad Herman Yuwono, M.Phil. Eng. dan Dr. Nofrijon Sofyan, sementara dari pihak SoU dikomandani oleh Bapak Slamet Firmansyah dan Bapak Aghry Wiranata dengan Science Club-nya. 

Sebenarnya kegiatan ini telah dilakukan secara rutin antara kedua intitusi sejak tahun 2015 di dalam program tahunan ”SoU Science Fair” dalam bentuk demo sain oleh para mahasiswa UI, namun pada tahun 2018 kerjasama ini menjadi lebih terstruktur lagi. Kegiatan ini merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat UI Perduli Aksi ”Go Green” di bawah sub-program: Kepedulian UI pada lingkungan melalui pengelolaan Energi Alternatif yang Efisien dan Inovatif. Secara spesifik kegiatan ini difokuskan pada upaya peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya penggunaan energi terbarukan yang harus dibina sejak usia dini, yaitu di tingkatan sekolah dasar, melalui serangkaian program  “Nano-Education For Kids” yang diselenggarakan di lokasi SoU di daerah Parung-Bogor. 

Implementasi inovasi energi alternatif yang ramah lingkungan dalam kegiatan bersama ini dilakukan dengan memberikan  pelatihan pembuatan divais sel surya tersensitasi zat pewarna (dye sensitized solar cell) kepada siswa-siswa sekolah alam tersebut dengan memanfaatkan zat pewarna alami (natural dye) yang banyak ditemukan di lingkungan sekolah dan masyarakat sekitarnya, seperti kunyit, kulit buah manggis, kulit buah apel, bahkan tanaman yang termasuk dalam kategori gulma seperti senduduk. Sel surya, atau sering disebut dalam bahasa Inggris dengan photovoltaic/solar cell adalah suatu divais yang mampu mengkonversi langsung energi foton dari cahaya matahari menjadi energi listrik berdasarkan eksitasi elektron di dalam material semikonduktor. Lebih menarik lagi, prinsip kerja sel surya tersensitasi zat pewarna dalam meghasilkan listrik meniru proses fotosintesis pada daun hijau. 

Dalam pelatihan tersebut diperkenalkan pula prinsip-prinsip dasar sederhana nano sain dan teknologi (NST) sebagai suatu upaya memasyarakatkan konsep teknologi yang diharapkan mampu memberikan terobosan bagi bangsa Indonesia dengan berbasis kepada pengetahuan dan kebijaksanaan lokal (indigineous knowledge-wisdom). Siswa-siswi sekolah alam diperkenalkan bagaimana efek partikel yang sangat kecil, yaitu dalam skala nanometer yang setara dengan 10-9 meter mampu memberikan hasil yang lebih baik daripada bahan dengan ukuran mikro. Secara langsung, siswa-siswi melakukan demonstrasi konsep ini dengan pelarutan gula batu dan gula pasir menggunakan alat magnetic stirrer  serta memperhatikan bahwa gula pasir mampu larut lebih cepat dibandingkan gula batu. Dalam dunia nano, itulah yang dikenal dengan surface-to-volume ratio !!.  

Tujuan dari program ini adalah diperolehnya kesadaran masyarakat akan pentingnya penghematan energi fosil yang dipakai sehari-hari, serta tertransformasinya kemampuan mengupayakan energi alternatif terbarukan dengan memanfaatkan bahan-bahan lokal alami yang dapat diperoleh dari lingkungan sekeliling masyarakat. Pemberian materi nano sain dan teknologi dalam ”Nano-Education for Kids” dalam program ini secara spesifik ditujukan agar siswa-siswa sekolah sebagai generasi muda penerus perjuangan Indonesia akan lebih kreatif dan inovatif untuk berkontribusi dalam pembangunan Indonesia ini di masa depan. Program ini juga memperlihatkan bagaimana penyelenggaraan pendidikan di level pendidikan tinggi seperti di Universitas Indonesia dapat disinergikan dengan konsep pendidikan dasar di tingkat sekolah seperti halnya SoU. Secara khusus berbasis pada konsep ”learning from nature”, SoU melatih para siswa untuk dapat 'membaca' semesta dengan cara pandang yang utuh atau menyeluruh. Diharapkan siswa-siswa tersebut kelak akan menjadi agen-agen perubahan di dalam masyarakat untuk tiga hal kunci: energi terbarukan, nano sain dan teknologi sebagai salah satu peningkat daya saing bangsa serta kemampuan mandiri berbasis kebijaksanaan lokal sebagai suatu strategi jitu menghadapi persaingan global. Prof. Akhmad Herman Yuwono dari Universitas Indonesia mengatakan bahwa: ”Indonesia harus mampu mengikuti jejak langkah yang telah dilakukan negara Iran dalam konteks kemandirian dimana mereka berhasil membumikan nanoteknologi di dalam masyarakatnya bahkan di saat-saat sulit embargo ekonomi oleh dunia luar berlangsung. Dalam konteks keberagaman hayati dan sumber daya mineral penunjang nanoteknologi, Indonesia jauh lebih berlimpah dibandingkan Iran, maka sudah selayaknya bangsa Indonesia mampu berdiri tegak di antara bangsa-bangsa lainnya dengan berbasis ’indigineous nanotechnology’.

   

 liputan : Aghry Wiranata (Fasilitator SM3)