All for Joomla All for Webmasters
admin@school-of-universe.com
0251 860 3233    
0856 8080 868
6e5de495cb62b3cdcae9358639a1b1f4.jpg

Ekspedisi SM ke Gunung Merbabu

Segala puji bagi Allah SWT. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi Muhammad SAW

Tanggal 06 November 2017 siswa siswi SM 1&2 menjalani kegiatan Basic Adventure yaitu Expedisi Gunung Merbabu. Kegiatan ini dilaksanakan selama 5 hari 4 malam dan sudah termasuk perjalan pulang pergi menggunakan Kereta. Expedisi ini kami melalui jalur Kereta turun di stasiun Solojebres  kemudian menuju ke kecamatan Selo, kabupaten Boyolali  Provinsi Jawa tengah. 

Perjalanan ini sangat luar biasa, dari jalur yang terus menanjak, sampai hujan dan guntur yang menggelegar. Pendakian ini memang sangat menantang, tapi akhirnya kami bisa sampai di Pos 3 di ketinggian +- 2500 mdpl dan lanjut ke Savana 2 di ketinggian 2950 mdpl hampir sama dengan Gn Merapi. Dan pada akhirnya perjalanan Expedisi ini memberikan pelajaran dan kenangan yang sangat luar biasa berarti.

Tes Mental Bisnis SM SOU

Tes mental Bisnis adalah program pembentukan karakter dan mental tangguh untuk berbisnis. Kegiatan ini disimulasikan dengan melakukan project mulai dari membuat sebuah produk, menentukan target penjualan dari modal yang sudah dikeluarkan, serta turun ke pasar-pasar atau tempat umum dan melakukan penawaran produk tersebut. Target penjualan bukanlah tujuan dari kegiatan ini, namun keberanian siswa untuk melakukan aproarch kepada sebanyak-banyaknya prospek untuk menjual produk yang ditawarkan. Tentunya strategi juga dibekali seperti bagaimana membuat kemasan yang menarik, membuat brosur dan tampilan penawarannya, promo dan lain sebagainya hingga bagaimana cara memperkenalkan diri, melakukan penjelasan produk dan sebagainya hingga akhirnya produk terjual.

Bisnis tidak semata-mata bergantung pada keahlian manajerial dan keahlian teknis. Keberhasilan bisnis justru ditentukan juga oleh keahlian dalam menjual. Bisnis tidak akan berarti bila produk ataupun jasa tidak dapat dijual meskipun memiliki kualitas yang tinggi. Tidak sedikit pula kita temukan produk ataupun jasa yang kualitasnya dan harganya biasa-biasa saja, namun banyak terjual karena ketrampilan dalam memasarkan yang sangat baik. Dengan demikian, pemasaran atau penjualan sebagai ujung tombak bisnis perlu menjadi perhatian dalam kemajuan sebuah bisnis.

School of Universe sebagai sekolah alam yang menitikberatkan salah satu kurikulumnya pada ketrampilan berbisnis, memberikan kesempatan kepada para siswa untuk berlatih dan mengasah mental dalam berbisnis, terutama pada ketrampilan menjual produk. School of Universe tidak semata-mata mengedepankan pada aspek penguasaan ketrampilan teknis, manajerial dan perencanaan saja. School of Universe juga mengedepankan pada aspek ketrampilan dalam menjual, khususnya mengasah rasa percaya diri siswa dalam melakukan penjualan langsung (direct selling) kepada orang-orang yang belum dikenalnya.

Untuk dapat memberikan kesempatan kepada para siswa untuk mengalami langsung proses pembelajaran berbisnis, maka diperlukan sebuah kegiatan yang tepat. Oleh karena itu Sekolah Menengah (SM) - School of Universe menyelenggarakan kegiatan TES MENTAL BISNIS untuk seluruh siswa SM. Melalui kegiatan ini, siswa dapat belajar langsung bagaimana memasarkan/menjual sebuah produk kepada orang-orang yang belum dikenalnya. Ketrampilan menjual ini sangatlah penting bagi siswa sebagai bekal di masa mendatang ketika mereka masuk ke dalam dunia bisnis atau dunia kerja. Oleh karena manfaat dari kegiatan ini yang sangat besar bagi kehidupan karir siswa di masa mendatang, maka kegiatan ini sangatlah penting untuk dilaksanakan. 

Produk yang akan dijual tentunya memiliki ketentuan seperti halal, mudah dijual, apabila dapat dikonsumsi harus sehat, organik dan bermanfaat. Dari sisi harga, harga jual produk harus lebih tinggi dari pada harga beli atau harga produksi, selisih harga jual dengan harga pokok minimal 10% namun terjangkau oleh pembeli

Bertempat di kawasan sempur, Kebun Raya Bogor, Target yang diharapkan dari kegiatan ini adalah percaya diri siswa yang terbangun, terampil menjual atau memasarkan produk dan melatih ketrampilan finansial siswa. 

Di hari H, Tes Mental Bisnis dimulai. Ramainya pengunjung yang datang membuat siswa antusias menjajakan dagangannya, malu memang, sulit iya, panas pasti, tapi ini menjadi tantangan penempaan mental dan kemandirian. Walau dagangan tidak habis, tak mengapa, karena itu tujuan ke-10, walau diusir oleh oleh "penjaga" tak mengapa, karena sejatinya bisnis di masa yang akan datang pasti penuh dengan halangan dan rintangan, baik yang nyata ataupun yang maya. Di sinilah kami belajar, di sinilah kami mencoba menjadi pebisnis yang berakhlak baik

tes_mental_bisnis_01
tes_mental_bisnis_02
tes_mental_bisnis_03
tes_mental_bisnis_04
tes_mental_bisnis_05
tes_mental_bisnis_06
tes_mental_bisnis_07
1/7 
start stop bwd fwd

OTFA 2017

Out Trekking Fun Adventure 2017

 

OTFA ku berani

OTFA ku mandiri

OTFA menempa jadi pejuang sejati

OTFA ku berani

OTFA ku mandiri

OTFA tuk raih ridho ilahi

 

Demikianlah sepenggal lirik yang tercantum dalam lagu mars OTFA. OTFA (Out Treking Fun Adventure) adalah sebuah kegiatan di alam bebas yang bertujuan memunculkan dan meningkatkan rasa keberanian, tanggung jawab, kepedulian, serta kemandirian dalam bentuk kegiatan berkemah. OTFA kali ini mengambil lokasi di Taman Nasional Gunung Halimun Salak (TNGHS) Bogor, Jawa Barat. Sebuah lokasi yang kerap kali digunakan oleh sekolah-sekolah alam untuk melaksanakan kegiatan serupa. TNGHS dipilih berdasarkan ketersediaannya sebagai sebuah lokasi berkemah agar tujuan yang sudah disebutkan di awal bisa diraih dengan maksimal.

School of Universe (SoU), sebagai sebuah sekolah yang mengusung konsep sekolah alam mengambil tema “Syukur, Berani, Mandiri” dalam pelaksaan OTFA tahun ini. OTFA kali ini telah dilaksanakan mulai tanggal tujuh belas hingga Sembilan belas oktober 2017. Ada dua tingkatan dalam OTFA; OTFA satu dan OTFA dua. OTFA satu terdiri atas kelas SD 1 dan SD 2 sebagai pesertanya dimana mereka melakukan kegiatan OTFA selama dua hari satu malam. Sedangkan SD 3 dan SD 4 adalah sebagai peserta OTFA dua dimana kegiatan OTFA berlangsung lebih lama; tiga hari dua malam.

Kegiatan seperti kuis islamika, peraturan baris-berbaris (PBB), instalasi outbond, dan trekking merupakan rangkaian kegiatan yang dilaksanakan pada OTFA tahun ini. OTFA kali ini terasa begitu special karena semua peserta diberikan kesempatan untuk melihat sebuah kenampakan alam. Ya. Sebuah kenampakan alam berupa air terjun. Meski OTFA kali ini diguyur hujan, terlihat semua peserta mengikuti kegiatannya dengan semangat dan antusias. 

Di malam kedua pelaksanaan OTFA, terlihat secara bergantian setiap kelas mempertunjukan penampilan-penampilan yang sudah disiapkan sebelumnya. Hal ini sebagai ajang penunjukan dan peningkatan kreatifitas yang dimiliki oleh masing-masing kelas. Dan pada akhirnya kegiatan ditutup dengan adanya apel penutupan. Apel berlangsung dengan khidmat. Refleksi yang disampaikan oleh Pembina apel membuat semua peserta apel hanyut dalam refleksi yang disampaikan.

Semoga kegiatan ini membawa keberkahan bagi seluruh peserta OTFA dan mendatangkan ridho Allah SWT sebagaimana yang tercantum di dalam lagu mars OTFA. Terima kasih kepada seluruh panitia yang telah membantu menyukseskan kegiatan ini dan terima kasih pula kepada seluruh peserta mulai dari SD 1 sampai SD 4 School of Universe yang telah mengikuti kegiatan ini dengan baik. Semoga kita bisa bertemu di OTFA-OTFA berikutnya.

OTFA 2017………..

Syukur… Berani… Mandiri… Allahu Akbar…

 

Reported by : Sahlani Wardani, S.Pd.

 

otfa_sou_000
otfa_sou_001
otfa_sou_002
otfa_sou_003
otfa_sou_004
otfa_sou_005
otfa_sou_006
otfa_sou_007
otfa_sou_008
otfa_sou_009
otfa_sou_010
otfa_sou_011
otfa_sou_012
otfa_sou_013
otfa_sou_014
otfa_sou_015
01/16 
start stop bwd fwd

Pelatihan Menulis di School of Universe

Pelatihan Menulis di School of Universe

Bermula dari informasi yang dibagi oleh salah satu teman di grup WhatsApp. Beliau bertanya apakah ada teman-teman di grup yang bisa mengisi pelatihan menulis di sekolah alam yang berlokasi di Parung Bogor. Beberapa merespon tapi belum ada yang pasti bisa mengisi.Sebelum ikut merespon, saya sempat browsing sebentar tentang profil sekolah alam tersebut. Wah! Melihat sekilas sekolahnya, saya langsung antusias untuk berkunjung ke sana. Saya mencoba menjapri beliau (Dewi Liez) dan bertanya seperti apa konsep model pelatihan yang diinginkan.

 

 Ini chat saya dengan Mbak Dewi

 

 

Ini chat dengan Mbak Iin

 

Akhirnya kesepakatan terjadi. Saya dihubungkan dengan salah satu orangtua murid dari sekolah itu. Respon hangat dan menyenangkan kembali terjadi. “Pucuk di cinta ulam pun tiba”. Iin Savitry (nama orangtua murid itu) ternyata sudah mengenal profil saya. Bahkan anak beliau katanya nge-fans ke saya. Tersanjung banget baca komentarnya. Obrolan singkat pun terjadi dan akhirnya kembali menghasilkan kesepakatan. Saya kembali dihubungkan dengan salah satu guru dari sekolah itu untuk membicarakan teknis pelatihan. Tidak berpanjang-panjang diskusi, mereka menyetujui konsep yang saya ajukan. Maka, saya pun bersiap menyusun materi tayangan.

 

Menyiapkan materi sesuai tema yang diminta

Dari hasil obrolan dengan Iin, kegiatan pelatihan menulis ini merupakan rangkaian dari acara “Literacy Fair” yang puncaknya akan digelar pada tanggal 4 November 2017.  Di acara puncak nanti, setiap siswa (kelas 3 – 6) diminta membuat karya tulis dengan tema besar “Aku dan Rasulullah saw.” Oleh sebab itu, saya diminta untuk memberikan materi panduan agar anak-anak paham bagaimana menuliskan karyanya tentang tema tersebut. Saya juga diingatkan bahwa karya tulisnya bukan artikel ilmiah. Anak-anak hanya diminta bercerita lewat tulisan saja. 

Dua hari sebelum hari “H” saya pun sibuk menyiapkan materi. Sementara langkah-langkah menulis cerita serta motivasi untuk mulai semangat menulis tetap menjadi panduan pembukanya. Tema “Aku dan Rasulullah saw” Saya jadikan contoh dalam penerapan langkah-langkah menulis tersebut. Bongkar pasang materi dengan template PowerPoint yang sudah ada akhirnya kelar.

 

Lelah efek kemacetan akhirnya terbayar

Hari Kamis, 12 Oktober 2017 pun tiba. Pagi-pagi sekali saya sudah siap untuk berangkat menuju Sekolah Alam – School of Universe, Parung Bogor. Perjalanan pagi dari Bekasi yang luar biasa macetnya menjadi pelengkap perjuangan menyetir agar tiba tepat waktu di sekolah itu. Rasa cemas mulai mengganggu ketika jam di mobil sudah melewati angka delapan. Saya harus tiba di sekolah itu tepat pukul 08.30 WIB. Sementara acara pelatihan akan dimulai pada jam sembilan.

Alhamdulillah, dengan menambah kecepatan menyetir, saya dan asisten (keponakan saya) yang ikut menemani akhirnya tiba di sekolah itu kurang dari waktu yang dijanjikan. Begitu turun dari mobil, kecemasan dan rasa lelah tiba-tiba menguap. Udara alam terbuka yang disuguhkan oleh School of Universe begitu memanjakan pandangan saya. Ditambah sambutan hangat para guru (mereka menyebut dirinya fasilitator/fasil) dan Iin Savitry membuat saya lupa kalau sudah degdegan menyetir selama dua jam lebih dari Bekasi. 

 

Langsung segar melihat penampakan sekolahnya seperti ini

Nama “Sekolah Alam” yang digagas oleh Bapak Lendo Novo ini memang layak disandingkan pada School of Universe. Lendo Novo yang pernah meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI, 12/09/2009) telah mendesain School of Universe menjadi sekolah yang menyenangkan. Area luas yang ditumbuhi oleh pepohonan dan bunga-bungaan benar-benar menampilkan model sekolah alam yang sesungguhnya. Ruang-ruang kelas yang dindingnya terbuat dari papan dan didesain semi terbuka itu membuat mata saya mendadak fresh. Mood saya langsung melonjak karena tak sabar ingin segera bertemu dengan peserta pelatihan.

Naluri buat berfoto mendadak kambuh :)

 

Pukul 08.45, saya diajak menuju lokasi pelatihan yang sudah disiapkan pihak sekolah. Sambil berjalan menuju tempat yang mereka sebut joglo itu, mata saya masih saja jelalatan memandangi area sekitar yang begitu sejuk dan asri. Betapa anak-anak yang bersekolah di situ betah berlama-lama menikmati alam terbuka sambil menimba ilmu.

           

Pelatihan menulis cerita

Ketika sampai di joglo, saya memandangi sekilas wajah anak-anak yang terlihat sama tak sabarnya menunggu kehadiran saya. Dengan sigap para fasil mengatur duduk mereka agar terlihat rapi sebelum acara dimulai. Dari 75 orang yang akan mengikuti pelatihan, lebih dari setengahnya adalah murid laki-laki.

Surprise!

Baru kali ini saya mendapatkan peserta pelatihan yang didominasi oleh anak laki-laki usia sekolah dasar dan terlihat bersemangat ingin mendapatkan ilmu menulis. Saya senyum-senyum sendiri melihat tatapan mata mereka yang tak lepas memandangi saya yang bersiap menyuguhkan ilmu menulis.

Bu Ana membuka acara

 

Pelatihan menulis dibuka oleh Bu Ana (salah satu fasil) dengan mengenalkan saya kepada anak-anak yang telah duduk rapi. Tidak lama, Bu Ana langsung menyerahkan acara kepada saya. Salam pun saya ucapkan untuk memulai sesi pelatihan. Sekilas saya mengenalkan diri kembali. Sebelum memulai pelatihan, saya mengajukan beberapa pertanyaan kepada mereka. Diantaranya tentang alasan mereka berkumpul dan menunggu saya di tempat itu. Spontan mereka menjawab “Mau belajar menulis ceritaaa …!” Jawaban penuh rasa semangat itu membuat saya yakin dan segera membuka materi pertama.

Pelatihan pun dimulai

 

Tayangan dari materi pertama yang saya tampilkan adalah tentang sebuah pertanyaan “Saya ingin menulis, apa yang harus saya lakukan?” Lagi-lagi spontan mereka mengangkat tangan dan berebutan menjawab. “Harus ada alat tulis!”, “Pakai cerita!” “Ada temanya!” Lalu sayup-sayup terdengar seorang anak menjawab, “Harus ada ide!”

Saya membenarkan semua jawaban mereka dan melengkapi jawaban dengan slideberikutnya. Saya sampaikan bahwa keinginan mereka untuk menulis harus diawali dengan niat, keyakinan, fokus, kekonsistenan, dan kedisplinan. Mendadak ekspresi mereka berubah takjub sambil menatap ke layar infokus. Lucu melihatnya. 

Selalu ada saja yang nggak fokus tapi itu biasaaa ;)

 

Setelah saya paparkan satu per satu dari lima modal awal itu, barulah saya tanyakan lagi hal apa lagi yang mereka perlukan saat menulis. Kembali mereka berebutan menjawab. Dua anak lantang berseru, “Ideee …!” Jawaban kedua anak yang bernama Melodi dan Alya itu sangat tepat. Selanjutnya Melodi dan Alya pula yang berulang-ulang saya jadikan contoh di sela-sela pemaparan materi. Mereka tersenyum-senyum malu.

 

 

Melodi (jilbab hijau) dan Ayla (jilbab cokelat)

 

Setelah saya menyampaikan tahapan awal menulis, terlihat sekali anak-anak itu mulai tak sabar ingin memraktikannya. Saya lanjutkan materi dengan langsung memberikan contoh tema besar tentang “Indahnya Akhlak Rasulullah saw”. Pelan-pelan saya jelaskan bagaimana cara agar ide tentang tema besar itu bisa dijadikan sebuah cerita menarik dan memberi kesan buat pembaca. Mulai dari mengemas pohon ide sampai kepada rantingnya. Memberikan contoh cara menciptakan konflik/kendala pada cerita, memunculkan karakter tokoh, menjelaskan tiga unsur besar (tema, setting, alur) dan unsur penting lainnya yang dibutuhkan dalam menulis cerita. Tak lupa saya berikan tips agar tidak kesulitan membuat judul.

Untuk lebih memudahkan mereka memahami apa yang sudah saya jelaskan, saya juga memberikan contoh bagaimana cara membuat pendahuluan dalam cerita, seperti apa bentuk konflik/tantangan itu, dan bagaimana mengemas ending (akhir) dan penutup cerita agar memberi kesan mendalam bagi pembacanya. Mata mereka tak lepas-lepas memandangi saya dan sesekali menatap layar.

 

Contoh cara membuat konflik/kendala cerita

 

Di awal pertemuan dengan beberapa fasil, saya diminta memaklumi jika dalam pelatihan akan sulit mengarahkan anak-anak. Namun selama dua setengah jam di sesi pertama, saya justru tidak merasa terganggu. Anak-anak peserta pelatihan yang terdiri dari kelas 3, 4, 5, dan 6 itu relatif fokus. Padahal katanya anak-anak itu sangat kreatif, aktif, dan terkadang susah diajak duduk tenang. Ada sekitar lima anak yang berkebutuhan khusus juga diikutkan dalam pelatihan itu. Satu anak sesekali lari ke depan dan mengambil mic yang saya pegang. Yang lainnya ada yang menangis juga tapi semua itu bukan kendala besar dan tak terlalu sulit menenangkannya kembali.

Betapa bahagia dan bersyukurnya karena sedikit pun saya tidak merasa kesulitan mengajak anak-anak itu untuk tenang dan konsisten fokus menyimak materi yang saya sampaikan dari awal hingga akhir.

 

Games dan jokes sebelum sesi praktik

Jangankan anak-anak, orang dewasa saja terkadang sulit untuk mempertahankan ritme agar tidak bosan saat menyimak materi yang disajikan lebih dari dua jam. Gestur seperti itu tentu sesekali terlihat pada beberapa anak School of Universe yang menjadi peserta pelatihan menulis itu. Namun, tidak terus-menerus dan tidak terlalu mengganggu.

Dari sekian banyak pengalaman menjadi pemateri di pelatihan menulis untuk anak-anak yang pernah saya lakoni, kekuatan joke dan celetukan jenaka bisa mencairkan suasana bosan. Ditambah games menarik terkait materi juga mampu membuat perhatian anak-anak peserta pelatihan itu tetap terjaga. Tips itu  pula yang saya lakukan pada pelatihan menulis di sekolah alam tersebut. 

 

Faruq, Hanif, dan Kayne mencoba tantangan

 

Dalam hitungan ke sepuluh, Kayne bisa menulis 5 kata

 

Saya bertanya siapa di antara 75 anak yang ada di joglo itu mau ke depan. Suara riuh dan saling berebut tunjuk tangan sambil menyebut “Saya, Bu …!” kembali menggaung. Akhirnya saya memilih tiga murid laki-laki (Faruq, Hanif, dan Kayne) untuk maju. Walaupun tidak ada hadiah yang disediakan untuk permainan itu, keantusiasan mereka tidak surut. Tidak hanya Faruq, Hanif, dan Kayne yang asyik dalam permainan, saya tetap melibatkan semua anak untuk memandu ketiga teman mereka yang ada di depan. Terciptalah suasana menyenangkan yang kembali membuat mereka rileks sebelum mengawali sesi praktik menuliskan ceritanya.

 

Praktik menulis sesuai tema

Tibalah sesi praktik menulis yang hasilnya akan diperlombakan untuk mendapatkan hadiah. Setelah kertas bergaris dibagikan, saya pun menampilkan tema apa yang harus mereka jadikan cerita di layar. Saya meminta mereka menulis tentang tema “Aku dan Rasulullah saw.” Tema inilah yang akan dijadikan bahan pameran di acara puncak “Literacy Fair” di sekolah itu.

Mereka saling berpandangan dan terkesan senang. Di awal saya memang sempat mendengar informasi bahwa saat anak-anak ini diminta menuliskan tema tersebut, mereka masih bingung mau menuliskan apa. Itu sebabnya saya diundang untuk memberikan panduan menuliskannya. Itu pula yang membuat binar di mata mereka spontan terpancar. Alhamdulillah … saya senang melihat ekspresi itu.

Sekitar 45 menit mereka saya beri waktu untuk menuangkan ide-idenya terkait tema yang diberikan. Tentu saja tidak semua anak bisa langsung berkreasi menuangkan idenya menjadi sebuah cerita. Tetap ada saja yang masih bingung dan dalam sepuluh menit waktu berjalan, kertasnya masih kosong. Hal ini wajar karena kemampuan anak dalam menyerap ilmu tentu berbeda. 

 

 

Ada yang masih bingung memulai ceritanya

 

Saya hampiri beberapa anak yang masih bingung itu. “Saya memang sudah pernah dengar cerita Rasulullah tapi saya lupa, Bu. Gak tau mau nulis apa,” ujar salah satu dari anak yang bingung itu. Tidak ingin mematahkan semangatnya, saya justru menyemangati untuk tetap menulis cerita tentang mengapa dia lupa pada kisah itu. “Jangan bingung. Kelupaan kamu pada kisah Rasulullah saw. tetap bisa menjadi sebuah cerita yang menarik. Ayo ceritakan kenapa kamu bisa lupa padahal dulu kamu pernah mendengar cerita Rasulullah dari guru kamu,” ujar saya memancing agar ide itu muncul di kepalanya. “Ooo … boleh nulis gitu ya, Bu?” tanyanya lugu. Saya mengangguk mantap. Matanya kembali berbinar dan mulai menulis.

Ada juga anak yang katanya paling susah kalau disuruh menulis karena ia tidak suka. Mencatat bahan pelajaran pun hampir tak pernah dilakukannya. Bu Ana menceritakan itu di akhir sesi. Untunglah saat sesi praktik, saya menemukan anak itu. Mungkin tanpa sadar saat saya bertanya “Adakah yang belum menuliskan satu kata pun?” anak itu mengangkat tangannya. Dengan lantang ia berseru, “Bingung mau nulis apaan!”

Lagi-lagi tidak ingin mematahkan semangatnya untuk ikut serta berlomba menulis, saya meminta ia menuliskan tentang rasa bingung itu. Mengapa ia bingung mau menuliskan apa? Apakah ia tidak ingat atau belum pernah mendengar kisah tentang Rasulullah? Sebisa mungkin saya arahkan anak itu untuk memancing ide di kepalanya agar bisa dijadikan tulisan. Tidak mengapa jika apa yang ditulisnya tidak sesuai dengan tema, yang penting ia mau memulainya.

 

Cerita terbaik mendapat hadiah

Setiap memberikan pelatihan menulis, saya berusaha untuk tidak pelit membawa hadiah. Biasanya hadiah yang saya bawa berupa buku-buku karya saya sendiri, buku kompilasi, dan buku-buku karya anak-anak saya yang stoknya masih ada di rumah. Di samping itu, saya juga selalu menanyakan apakah pihak penyelenggara juga mau menyediakan hadiah. Hadiah dari saya biasanya tidak saya beritahu kepada panitia. Saya jadikan itu sebagai kejutan agar peserta pelatihan merasa lebih bersemangat saat mengikuti sesi praktik menulisnya.

 

Ini sembilan cerita yang terpilih

 

Di awal sesi praktik saya sampaikan bahwa selain hadiah dari pihak sekolah, saya juga akan memberikan bonus hadiah untuk mereka yang berhasil menulis cerita yang keren. Mendengar itu, anak-anak terlihat bersemangat dan tak sabar untuk memulai menuliskan cerita mereka. 

 

 

Ini para pemenangnya ... eh, satu lagi ke mana ya?

 

Lebih 45 menit mereka berlomba menuliskan cerita bertema “Aku dan Rasulullah saw”. Saya pun diberi waktu untuk membaca dan memilih para pemenangnya di saat mereka salat dan makan siang. Terpilih sembilan cerita terbaik. Penulisnya terdiri dari murid kelas 3, 4, 5, dan 6.

 

Ada pertemuan tentu ada perpisahan

Usai sudah pelatihan menulis bersama anak-anak Sekolah Alam – School of Universe, Parung Bogor. Saya tutup momen kebersamaan di hari itu dengan kembali memotivasi agar mereka terus berlatih dan menjadi terampil menulis. Saya katakana bahwa ingin menjadi apa pun mereka nanti dan profesi apa saja yang ingin mereka tekuni, kemampuan menulis bisa memperkaya keterampilan mereka. Saya yakinkan bahwa banyak sekali keuntungan positif jika mereka mau melatih kemampuan menulisnya.

 

 

Bersama seluruh peserta dan panitia pelatihan menulis

 

Sebelum benar-benar berpisah, kami pun berfoto bersama. Ada satu hal yang membuat saya haru. Tiba-tiba seorang anak laki-laki menghampiri saya dan berkata, “Bu … saya kok jadi pengin nulis cerita tapi bukan pendek tapi cerita seperti buku cerita gitu. Ternyata gampang ya, Bu. Jadi semangat saya,” ujarnya dengan mimik lucu penuh antusias. “Bu, kapan lagi Ibu datang ke sini?” lanjutnya lagi membuat saya sempurna terharu. Saya respon ia dengan balasan tak kalah antusias. 

 

Terima kasih, School of Universe :)

 

Semoga apa yang saya berikan di sekolah alam itu bisa diserap dan jadikan bekal dalam kegiatan tulis – menulis. Aamiin. Sampai jumpa di pelatihan lainnya. Salam

[Wylvera W.]

 

sumber : wylvera.com

nb : dalam rangka persiapan Literacy Fair 2017

 

 

Akreditasi SD SOU 2017

Pada tanggal 27 dan 28 September 2017 SOU kedatangan tamu dari Badan Akreditasi Nasional (BAN) Kabupaten Bogor. Maksud dan tujuannya yakni melakukan akreditasi terhadap 8 standar yang menjadi syarat kualitas pada level Sekolah Dasar (SD). School of Universe, sejak tahun 2007 yang lalu sudah memperoleh akreditasi dengan nilai mutu A (sangat baik) dan akreditasi ulang memang harus dilakukan dalam selang waktu setiap 5 tahun. Ini menjadi kali ke-tiga SD School of Universe menjalankan proses akreditasi, dan alhamdulillah selalu konsisten dengan memperoleh nilai A pada tahun 2007 dan 2012.

Sebagai salah satu sekolah swasta formal, Sekolah Alam School of Universe selalu berusaha keras memenuhi syarat dalam menjalankan kegiatan Belajar Mengajar baik level PG, TK, SD dan SMP/SMA. Mulai dari izin operasional, maupun akreditasi seperti kali ini sehingga SOU dapat secara mandiri melaksanakan kegiatan Ujian Nasional (UN) mandiri. Sejak tahun 2004 berdirinya SOU hingga saat ini sudah banyak alumni yang terus melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi, baik di dalam maupun luar negeri. Pengusaha-pengusaha muda pun dilahirkan dari alumni SM yang kini bergerak di berbagai bidang khususnya industri kreatif.

Pemerintah melakukan akreditasi untuk menilai kelayakan program atau satuan pendidikan dalam rangka meningkatkan mutu pendidikan nasional secara bertahap, terencana  dan terukur sesuai Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional BAB XVI Bagian Kedua Pasal 60 tentang Akreditasi. Pemerintah menetapkan Badan Akreditasi Nasional Sekolah/Madrasah (BAN-S/M) dengan Peraturan Mendiknas Nomor 29 Tahun 2005. BAN-S/M adalah badan evaluasi mandiri yang menetapkan kelayakan program atau satuan pendidikan jenjang pendidikan dasar dan menengah jalur formal dengan mengacu pada standar  nasional pendidikan. Sebagai institusi yang bersifat mandiri dan bertanggung jawab kepada Mendiknas, BAN-S/M bertugas merumuskan kebijakan operasional,  melakukan sosialisasi kebijakan  dan melaksanakan akreditasi sekolah/madrasah. Dalam melaksanakan akreditasi sekolah/madrasah, BAN-S/M dibantu oleh Badan Akreditasi Provinsi Sekolah/Madrasah (BAP-S/M) yang dibentuk oleh Gubernur, sesuai Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan, khususnya Pasal 87 ayat 2.

Khususnya pada tingkatan Sekolah Dasar, 8 standar yang harus dipenuhi kualitasnya adalah : Standar Isi, standar proses, standar kompetensi lulusan, standar pendidik dan tenaga kependidikan, standar sarana dan prasarana, standar pengelolaan, standar pembiayaan, dan standar penilaian. Setiap standar memiliki butir-butir pertanyaan yang harus dapat dibuktikan dengan cara memperlihatkan bukti fisik, wawancara, observasi dan metode-metode lain yang dianggap perlu oleh asesor untuk memberikan penilaian sesuai standar yang harus dipenuhi oleh sebuah Sekolah Dasar.

Pada kesempatan kali ini Ibu Sunarti dan Ibu Hj. Lin dari BAN/S-M Kabupaten Bogor bertugas sebagai asesor di SD School of Universe. Hari pertama diawali dengan hujan deras yang cukup panjang dari pagi hingga menjelang siang. Walaupun harus diundur 1 jam dari rencana, akhirnya penilaian di hari pertama ini dapat dilalui dengan lancar, dimulai dengan standar 1 hingga standar 8 pun selesai hampir pukul 14.00.

Pada hari kedua, asesor disambut oleh persembahan musik perkusi barang bekas 'The Rombenkz'. Proses penilaianpun dilanjutkan dengan melakukan visitasi langsung di kelas, dengan melihat sinkronisasi standar isi yang sudah dibuat dengan metode pengajaran yang dilakukan. Karena aktifitas yang sangat menyenangkan, Asesor pun terlibat langsung dengan kegiatan Belajar Mengajar dan mendapat antusiasme dari siswa-siswi karena ada tamu di kelasnya. Setiap level mulai dari SD kelas 1 hingga 6 selesai divisitasi. Kegiatan asesor dilanjutkan dengan melihat langsung sarana dan prasarana mulai dari kelas, UKS, laboratorium, fasilitas olah raga, perpustakaan dan ruang komputer pun disinggahi dengan antusias.

Proses akreditasi sudah selesai dilakukan, penilaian yang diolah akan segera diumumkan segera. Semoga apa yang sudah diupayakan dan semua proses yang sudah dijalankan membawa manfaat bagi semua pihak, terutama bagi kemajuan pendidikan di Indonesia. aamiin.

Stigma Sekolah Alam adalah sekolah informal yang tak berizin, tidak mengikuti standar-standar yang diwajibkan Dinas Pendidikan, bahkan selalu berseberangan, tidaklah benar. Banyak Sekolah Alam yang telah memperoleh izin operasional bahkan terakreditasi dengan nilai sangat baik. Bahkan kiprah Sekolah Alam sejak tahun 1998 pertama kalinya sekolah Alam didirikan di Ciganjur, hingga kini Konseptor Sekolah Alam (Lendo Novo) terus mengembangkan konsepnya di School of Universe hingga level SMP/SMA (SM) dan perguruan tinggi Maestro School of Technopreneur (MSoT) terus menginspirasi Pendidikan di Indonesia. Terbukti dengan semakin mengerucutnya Kurikulum Nasional dengan Konsep Sekolah Alam, yakni ke arah pembentukan karakter dan kemandirian. School of Universe bahkan dipercaya sebagai pelatih guru-guru nasional dalam implementaasi K-13 karena Kurikulum K-13 dianggap sangat "Sekolah Alam" dan Konsep Sekolah Alam terbukti lebih dari 20 tahun sudah mengimplementasikan kurikulumnya dengan baik.

akreditasi_SD_SOU_01
akreditasi_SD_SOU_02
akreditasi_SD_SOU_03
akreditasi_SD_SOU_04
akreditasi_SD_SOU_05
akreditasi_SD_SOU_06
akreditasi_SD_SOU_07
akreditasi_SD_SOU_08
akreditasi_SD_SOU_09
akreditasi_SD_SOU_10
akreditasi_SD_SOU_11
akreditasi_SD_SOU_12
akreditasi_SD_SOU_13
akreditasi_SD_SOU_14
akreditasi_SD_SOU_15
01/15 
start stop bwd fwd

 

Page 1 of 5