All for Joomla All for Webmasters
admin@school-of-universe.com
0251 860 3233    
0856 8080 868
slide01
slide02
slide03
slide04
slide05
slide06

Membentuk Anak yang Sukses - Bincang Sehati

Salah satu memberikan pola asuh yang baik adalah dengan menjadi contoh bagi anak, baik dalam bersikap maupun bertutur kata. Nasehat, nilai, maupun tradisi dalam keluarga dapat membentuk pribadi anak. Pola asuh dan cara didik orang tua diharapkan mampu membangun sikap positif di dalam diri sang anak. Kesuksesan yang diraih anak dapat terwujud karena pelajaran orang tua yang ditanamkan sejak kecil.

Konsultan Learning Support Center School of Universe, Rr. Finandita Utari, M.Psi., Psikolog., CGA dalam acara Bincang Sehati DAAI TV bertajuk 'Membentuk Anak yang Sukses' berbagi kepada pemirsa hal-hal yang penting bagi orang tua untuk membentuk anak yang sukses. Diantaranya senantiasa memberikan kesempatan kepada anak untuk mengeksplorasi hal-hal yang disukai anak sesuai bakatnya. Hal ini sejalan dengan apa yang sudah School of Universe jalankan dalam proses kegiatan belajar mengajar di sekolah. Apalagi ketika anak sudah menginjak level SMP dan SMA, bakat dan hobi anak bisa kita arahkan agar dapat membantu anak mandiri secara finansial yakni berbisnis.

Yuk mari kita simak video berikut ini

Siswa SOU mengikuti Pameran Kementerian Keuangan

Perkumpulan Dharma Wanita Kementerian Keuangan hari ini Rabu (7/5/2019) menggelar pameran DhawaFest Pesona 2019 di Gedung Dhanapala. DhawaFest Pesona 2019 merupakan acara tahunan yang memamerkan UKM binaan dari beberapa BUMN, seperti Bank BRI, Bank Mandiri, Angkasa Pura II. Para UKM yang terlibat berjumlah kurang lebih 205 pelaku. Di mana mayoritas adalah penjual pakaian dan batik. Ada juga yang menjual perhiasan seperti cincin dengan mutiara.

"Acara dalam rangka menyambut ramadhan, diisi oleh masing-masing bidang unit kerja," kata Ketua Dharma Wanita Kementerian Keuangan Wida Hadiyanto di Gedung Dhanapala Kementerian Keuangan, Jakarta, Rabu (7/5/2019).

Wida mengungkapkan, acara pameran ini berlangsung selama tiga hari mulai dari tanggal 8-10 Mei 2019. Pameran ini pun terbuka untuk umum tanpa dikenakan biaya masuk sepeser pun "Kita malah senang kalau ada orang lain datang ke sini. Ini untuk umum juga," ujar dia.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan selama pameran berlangsung juga ada 2.000 paket sembako murah yang bisa dimanfaatkan. Hanya saja, 2.000 paket itu hanya untuk pegawai Kementerian Keuangan khususnya yang bekerja sebagai office boy dan security atau penjaga keamanan. "Membagikan sembako murah 2.000 paket kepada keluarga dan penjualan sandang murah, aktivitas sosial memberikan dampak positif bagi yang menerima," ujar Sri Mulyani.

Pada pameran ini juga ada yang menjual soal ikan frozen (beku) yang harganya mulai dari Rp 7.500 per pack hingga yang paling mahal Rp 130.000 per pack. Adapun, ikan beku yang dijual ada tulang pipi dengan harga Rp 7.500 per pack dan yang paling mahal ikan tuna dan salmon Rp 130.000 per pac. Selain itu ada juga udang dan cumi-cumi.

Salah satu siswa School of Universe kelas SM-4 (SMA), Helmy turut mengikuti acara tersebut dengan menggelar bisnisnya di bidang peternakan. Ibu Sri Mulyani juga menyempatkan untuk mampir dan bertanya kepada Helmy, dari sekolah mana. Helmy menjawab di School of Universe. "Oh, Sekolah Alam ya?" tutur Bu Sri Mulyani menanggapi. Helmy juga diminta kartu nama bisnisnya serta melakukan audiensi di depan Bu Menteri untuk persiapan hari raya kurban yang dagingnya langsung diolah menjadi rendang kaleng dan akan didistribusi ke pelosok Indonesia. 

Bunda Helmy yang juga turut mendampingi anandanya dalam pameran tersebut sangat mengapresiasi peran pak Dedi sebagai wali kelas Helmy dan fasilitator-fasilitator School of Universe dalam mendorong bisnis siswa-siswinya serta mencari tempat magang yang sesuai dengan minat dan bakat setiap anak. Mudah-mudahan dengan semakin menjamurnya Sekolah Alam di Indonesia turut mempercepat lahirnya pengusaha-pengusaha muda yang rahmatan lil 'alamin.

Sumber Berita : Detik.com

Foto : Hendra Kusuma (Detik.com) dan Bunda Nuryani (Ibunda Helmy)

 

Workshop AkarAlam level SMP/SMA

Di usia lebih dari 20 tahun sejak Sekolah Alam pertama didirikan, banyak sudah para penggiat Sekolah Alam yang membuka level pendidikan setingkat SMP dan SMA. 

Lendo Novo sebagai konseptor dan pendiri Sekolah Alam tentunya terus melakukan riset dan eksperimen bagaimana kurikulum sekolah alam dapat distrukturkan dan dapat diaplikasikan diseluruh sekolah alam yang ada. Setelah rampung dengan kurikulum sekolah alam tingkat TK dan Sekolah Dasar, Lendo Novo bersama tim kurikulum di School of Universe juga menggarap kurikulum Sekolah Alam pada tingkat pendidikan menengah, yakni SMP dan SMA. Bahkan kini Perguruan Tinggi dengan konsep Learn From Maestro dan Digital Learning Juga sudah dijalankan Maestro School of Technopreneur dan Nuefa Digital Campus sudah lebih dari 5 tahun.

Sosialisasi kurikulum Sekolah Alam level SMP dan SMA ini dikemas dalam bentuk workshop AKAR ALAM (Akademi Kurikulum dan Pembelajaran Sekolah Alam) khusus untuk level SMP dan SMA. Kegiatan ini dilaksanakan pada tanggal 26, 27 dan 28 April 2019. Kurang lebih 15 Sekolah Alam dari berbagai daerah di nusantara mengikuti workshop 3 hari tersebut. Tindak lanjut dari workshop ini adalah kegiatan pelatihan implementator (OMBAK ALAM), yakni Fasilitator/guru.

Dalam workshop tersebut Kurikulum Akhlak, Logika, Kepemimpinan dan Bisnis di jabarkan oleh Lendo Novo bersama tim kurikulum. Bisnis menjadi muatan yang cukup dominan di dalam pembelajaran level SMP dan SMA karena pada tingkatan ini siswa sudah dikenalkan dengan kegiatan-kegiatan pemagangan, manajemen, bisnis plan dan bisnis praktis. 

Selanjutnya diharapkan sekolah-sekolah yang telah mewakili peserta workshop ini dapat menjalankan workshop serupa di daerahnya masing-masing agar kurikulum Sekolah Alam dapat menjangkau seluruh daerah dan dapat dipahami dengan merata.

 

     

     

 

 

Konseptor Sekolah Alam dalam Filantropi DAAI TV

Dalam tajuk 'Filantropi' yang menjadi program acara di DAAI TV, bulan Januari 2019 yang lalu Host Filantropi Sakti Al Fattaah berkesempatan mewawancarai Bang Lendo Novo Konseptor Sekolah Alam dan meliput situasi kegiatan belajar dan aktivitas di Sekolah Alam School of Universe. Dalam wawancara yang ditayangkan di DAAI TV pada 6 Februari 2019 yang lalu, Bang Lendo menyampaikan beberapa hal.

Bang Lendo bermimpi suatu masa semua anak sekolah dengan bahagia, menemukan bakatnya dan bisa jadi orang terbaik sesuai bakat minatnya. Mimpi-mimpi ini lah yang menginspirasi Bang Lendo Mendirikan Sekolah Alam.

Sekolah alam didesain dengan insitu development, sesuai dengan lingkungannya. Yang harus sama adalah 4 pilar kurikulumnya (Akhlak, Logika, Kepemimpinan dan Bisnis)

Untuk mengakomodir anak-anak yang kurang mampu, sekolah alam selain memberikan beasiswa kepada anak-anak yang kurang mampu, juga harus bermitra dengan masyarakat. Bila masyarakat bersedia menjadi guru bagi anak-anak dilingkungannya maka sekolah menjadi nol rupiah. Itu yang dikembangkan dengan pendekatan 'Learning from Maestro'. Misalnya dalam lingkungan ada yang ahli di bidang kuliner bisa mengajarkan anak-anak yang memiliki bakat dan minat di bidang kuliner. Beberapa sekolah alam sudah menerapkan cara ini yang dikenal dengan sekolah komunitas.

Dirintis sejak 20 tahun yang lalu, sekolah Alam berupaya menjadi salah satu solusi masalah pendidikan di negeri ini. Sekolah Alam dirancang sedemikian rupa untuk menjadi tempat yang membahagiakan dimana anak dapat menemukan menemukan serta mengasah bakat minatnya untuk menjadi seorang pemimpin yang mandiri, berakhlak serta mampu menjawab tantangan zaman.

Selengkapnya dapat disaksikan dalam liputannya di video berikut.

 

Berikut narasi dialog video di atas :

Narasi : Konsep Sekolah Alam digagas sejak tahun 1990 dan telah dipraktekkan lebih dari 2 dekade. Sekolah Alam pertama dibuka di Ciganjur, Jakarta Selatan, pada tahun 1998. Tanpa memberlakukan sistem franchise, sang penggagas memberi kesempatan konsep Sekolah Alam diadopsi di seluruh Indonesia.

Setiap daerah dapat menyesuaikan konsep pengajaran sesuai dengan situasi alam setempat. Kini terdapat lebih dari 57 Sekolah Alam dari seluruh Indonesia yang tergabung dalam Jaringan Sekolah Alam Indonesia.

Sakti : Halo pemirsa, sekarang ini saya sedang berada di Sekolah Alam, School of Universe, di Parung, Jawa Barat. Dan sekarang ini saya akan berbincang-bincang dengan sosok atau penggagas di balik berdirinya sekolah ini. Siapa dia? Ayo, ikuti saya!

Kalau kita bicara sepak terjang, masih inget gak, Pak Lendo dulu semasa sekolah sebenarnya sosok murid yang seperti apa sih, Pak?

Lendo : Jaman dulu belum ada yg autis, disleksia, ADHD. Yang ada cuma normal dan hiperaktif. Saya masuk yang hiperaktif. Saya merasa baik-baik saja, saya gak nakal. Cuma karena Tuhan memberikan pada saya kondisi hiperaktif sementara pendidikan kita tidak bisa mengakomodir kondisi anak-anak sepeti ini akhirnya kami distigma anak nakal.

Sakti : Tapi tentunya dari belasan tahun sekolah, TK sampai perguruan tinggi, tentu ada hal positifnya dong, Pak?

Lendo : Yang paling berkesan buat saya itu adalah pertemanannya.

Saya terkenal sebagai orang yang banyak temannya. Ternyata sesuai dengan perintah Tuhan gitu ya, kan kita disuruh untuk bersilahturahim, karena silahturahim itu kan sumber rejeki.

Itulah yang membuat saya bisa hidup, walaupun memilih jalur sosial sebagai aktivitas sehari-hari yang saya bangun.

Sakti : Jadi dulu bagaimana awal mula hingga terpikir untuk mendirikan Sekolah Alam?

Lendo : Jadi saya melihat ada kesalahan nilai-nilai di masyarakat. Masyarakat Indonesia itu selalu menghormati masyarakat yang kaya, yang pitnar, yang ganteng, yang cantik, kayak selebritis. Itu yang ada di masyarakat. Sementara yang ada di kitab suci kita yang disebut orang mulia itu bukan itu tapi orang yang bertakwa, orang yang benar-benar menjalankan perintah Tuhannya. Jadi ada yang harus saya perbaiki. Nah, menurut banyak sejarah peradaban bangsa-bangsa untuk mengubah suatu bangsa itu harus masuk dari pendidikan. Itu kenapa saya bikin Sekolah Alam.

Narasi : School of Universe berdiri sejak tahun 2004 dan merupakan pengembangan dari Sekolah Alam Ciganjur. Berlokasi di Parung, Bogor sekitar 18 kilometer dari selatan Jakarta.

Sekolah ini memiliki visi mendampingi setiap anak manusia untuk menjadi pemimpin di muka bumi dan memberi rahmat bagi sekalian alam. Sekolah ini menerima siswa dari tingkat kelompok belajar hingga perguruan tinggi dan memberi tempat bagi siswa berkebutuhan khusus.

Sakti : Di Sekolah Alam ini konsep dan kurikulumnya seperti apa, Pak?

Lendo : Kita bikin kurikulum sendiri, karena kita ingin yang terbaik. Kurikulum itu saya ambil dari tujuan penciptaan manusia.

Yang pertama, dia harus tahu cara tunduk kepada Yang Menciptakan. Itu kita namakan kurikulum akhlak. Kalau pemerintah itu sekarang menamakannya kurikulum karakter. 

Kemudian yang kedua, kurikulum logika. Jadi cara untuk memahami binatang, atau tumbuhan, atau makhluk lainnya tunduk kepada Tuhan. Supaya apa? Supaya bisa kita kelola. Kenapa kita perlu memahami? Supaya kita bisa mengelola alam semesta.

Nah, yang ketiga itu, kurikulum leadership, kepemimpinan. Kan kita diciptakan sebagai pemimpin. Jadi setiap anak itu dilatih untuk menjadi pemimpin.

Sakti : Cara melatihnya seperti apa, Pak?

Lendo : Nah, kita itu punya metode yang berbeda-beda. Jadi kalau akhlak itu kita melatihnya dengan tauladan. Guru harus memberikan tauladan tentang karakter yang baik. Kalau logika itu dia langsung belajar dari alam. Kemudian kalau leadership dia pakai metode scouting namanya, kombinasi pramuka dengan outbound.

Kemudian yang terakhir ini, kurikulum bisnis. Jadi setiap anak itu kita latih untuk bisa mencari nafkah. Karena pendidikan kan sejatinya membekali orang untuk bisa mencari nafkah untuk bisa membekali kehidupan dia.

Sakti : Nah, untuk mengakomodasi masyarakat sekitar dengan bakat tertentu, tapi mereka hanya masyarakat sederhana, nah, itu cara mengakomodasinya seperti apa?

Lendo : Begini, kita punya pengalaman juga. Sekolah Alam di beberapa daerah itu gratis untuk kaum dhuafa, untuk orang miskin, dsb. Nah bagaimana untuk menyiasati secara luas itu sebenarnya sederhana.

Sekolah Alam itu harus bermitra dengan masyarakat. Nah, kalau masyarakat bersedia menjadi guru buat anak-anak itu, maka dia nol rupiah. Itu yang kita kembangkan dengan pendekatan Learning from Maestro, belajar dari jagonya. Jadi misalnya anak-anak ingin belajar kuliner. Di satu kampung itu ada orang tua yang jago kuliner. Dia jadi guru aja. Langsung anak-anak itu bisa dan hebat, gitu.

Itu yang dikembangkan oleh beberapa teman, disebut sebagai sekolah komunitas. Jadi sekolahnya Sekolah Alam, tapi pengelolaannya komunitas.

Sakti : Idenya, inspirasinya, datang dari mana ,Pak? Apakah ada sososk tertentu yang sangat mempengaruhi pemikiran Pak Lendo, atau bagaimana?

Lendo : Saya bermimpi di suatu masa semua anak itu sekolah dengan bahagia, terus ketemu bakatnya dan bisa menjadi orang terbaik sesuai dengan bakat minatnya.

MImpi-mimpi yang saya bangun sejak kecil itulah yang sebetulnya menelurkan Sekolah Alam. Kalau inspirasi-inspirasi dari dunia luar itu saya dapat juga dari buku-buku. Mungkin Mas pernah dengar Toto Chan, sekolah yang di gerbong kereta yang di Jepang.

Kemudian ada The Schooling Society. Jadi banyak pemikir pendidikan di dunia yang kebanyakan membangun seperti Sekolah Alam. Tapi kebanyakan mereka tidak sustain, tidak berlanjut. Yang saya bangun itu kan sebuah gerakan sebetulnya, "Yuk, bikin sekolah alam, yuk!" Silakan! Semuanya boleh bikin, tidak perlu pakai franchise, semua ilmu saya share.

Akhirnya ya, Sekolah Alam bisa ada di seluruh Indonesia. Memang kita mendesain sekolah alam itu harus “in situ development. sesuai dengan lingkungannya.

Apa yang sama? Yang sama itu 4 pilarnya itu. Karena semakin berbeda, semakin beragam. Kan keberagaman itu kan sesuatu yang indah, kan Bhinneka Tunggal Ika, itu kan sebetulnya.

Narasi : Berbagai kegiatan ekstrakurikuler menjadi pendukung pelaksanaan kurikulum di Sekolah Alam ini. Kelas Rombenkz misalnya, atau memainkan alat musik perkusi dari barang-barang bekas menjadi salah satu aktivitas favorit para siswa. 

Aqil (siswa) : Kegiatannya sih banyak, yang jelas pasti ada mengajar, belajar, pelajaran biasa. Ada juga pelajaran bisnis. Lalu ada juga setiap minggunya outbond dan ekskul juga banyak sih.

Dan kalau saya pribadi sih, yang paling saya suka itu mengajarkan bahwa untuk kerja keras, kalau pengen dapat rejeki yang banyak pengen dapat uang yang banyak, itu harus kerja keras. gak bisa kita nunggu kesempatan untuk datang ke kita, kita harus ngejer kesempatan itu.

Sakti : Sekolah Alam ciptaan Pak Lendo ini kan sudah 2 dekade berdiri, Pak. Tantangannya apa saja?

Lendo : Ya, ada 3 tantangan yang paling berat yang kami hadapi.

Yang pertama itu pola pikir orang tua. Orang tua itu masih meyakini bahwa sekolah yang benar itu seperti sekolah pada umumnya. Sampai hari ini masih, walaupun sudah mulai berkurang.

Yang kedua, pemerintah. Pemerintah itu masih suka memojokkan kami dengan peraturan-peraturan yang mereka tetapkan. Kami itu pernah 10 tahun gak dikasih ijin. Alasannya sederhana, kenapa di kelas gak ada kursi, meja, dan papan tulis?

Yang ketiga itu pada umumnya masyarakat itu masih memegang standar-standar atau status sosial yang mewajibkan semua orang itu, punya ijazah, punya titel, punya segala macam.

Google, Ernst & Young, perusahaan-perusahaan terbaik di Amerika itu, dia gak terima ijazah. Dia terima certified, kamu mampunya apa? Sudah terbukti belum? Baru kerja sama saya.

Sakti : Artinya di Sekolah Alam ini memang tidak ada ijazah, tapi sertifikat yang diberikan?

Lendo : Kita itu kan fokusnya pada rapot keempat tadi. Kalau yang rapot akademik kita juga sediakan karena kita juga terakreditasi. Cuma memang kita perlu beradaptasi dengan peraturan pemerintah.

Yusri : Kalau Bang Lendo itu di keluarga, dia sangat menekankan dengan akhlak. Kemudian yang kedua adalah tentang bakat. Jadi tugas saya sebagai ibu, sebagai seorang istri di rumah itu adalah, mengenali bakat anak saya di rumah. Kemudian sambil juga diterapkan di sekolah.

Artinya, karena anak-anak sudah besar, ya artinya ini menjadi role model juga untuk di SoU (School of Universe) ini sehingga memudahkan saya saat menyampaikan kepada orang tua, Bapak, Ibu, seperti ini! karena kita punya pengalaman di rumah juga sejalan dengan konsep yang dimaksud.

Sakti : Cara Pak Lendo mentransfer ide dan nilai-nilai kepada keluarga, istri ,dan anak–anak, itu seperti apa?

Lendo : Kan kalau kita punya konsep langkah pertama yang perlu kita lakukan adalah kita perlu mengimplementasinya sendiri. Setelah terbukti baru kita share ke orang lain. Anak-anak saya semuanya sekolah di Sekolah Alam.

Sakti : Jadi anak Pak Lendo, nomor 1 sampai 4, semua masuk Sekolah Alam yang Pak Lendo dirikan?

Lendo : Iya. Ini sudah lulus semua atau masih ada yang sekolah di sini? Ada 2 yang sudah lulus kuliah. Karena kita kan sampai perguruan tinggi. Kemudian ada satu yang masih kuliah. Satu lagi masih SMA kelas 3.

Anak saya yang nomor satu itu bakatnya di musik. Sekarang itu dia..sudah 3 tahun berturut-turut dapat Anugerah Musik Indonesia.

Yang kedua, anak saya itu cerdas bahasa. Jadi dia belajar Bahasa Inggris otodidak, sangat fluent. Sekarang dia menekuni profesi sebagai penerjemah. Jadi film-film yang ada di TV itu biasanya dia yang ikut menerjemahkannya untuk subtitle.

Kemudian yang ketiga bakat minatnya di bidang psikologi. Terus kita magangkan ke seorang psikolog terkenal yang hebat. Dia magang.

Yang terakhir, yang bungsu, yang laki-laki sebetulnya dia bakatnya di keuangan. Tapi dia masih ikut-ikutan teman-temannya, masih main-main dimusik, kemudian juga di film maker. Kita gak paksakan. Dia terus. Tapi yang namanya bakat itu tidak pernah akan menghilang. Tapi akan semakin kuat pada saat berusia dewasa.

Dan kami meyakini setiap orang itu bisa bermanfaat yang besar kepada orang lain, kalau ia sesuai dengan bakatnya. Kalau gak sesuai dengan bakatnya, dia bisa hidup, tapi tidak optimal.

Sakti : Selama 20 tahun berdiri Sekolah Alam yang Pak Lendo dirikan ini Bapak melihat siswa dan alumninya seperti apa? 

Lendo : Yang pasti, alumni-alumni di Sekolah Alam itu tidak pernah lupa dengan Sekolah Alam.

Jadi walaupun dia sudah di sekolah-sekolah umum, di luar negeri, segala macam. Kalau dia ingin mencari kebahagiaan, dia ingin mencari sesuatu yang ekspresif, dia pasti ke sini untuk mengasah dirinya kembali, segala macam.

Dan mereka sampai hari ini rata-rata menjadi yang terbaik di bidangnya masing-masing.

Jadi gini kalau kita bikin pendidikan apa yang kita berikan kepada anak, itu pasti tertanam. Jadi kalau pendidikan di Indonesia itu menanamkan knowledge, pasti dapat knowledge-nya. Kalau di Sekolah Alam itu menanamkan akhlak, pasti dapat akhlaknya.

Jadi tergantung strategi pendidikan di Indonesia, apa yang mau dibekali bagi setiap anak bangsanya.

Lendo : Ya, Mas Sakti, saya kenalkan sama salah satu maestro di kampus kami yang keahliannya itu sangat luar biasa di dunia digital. (Digital marketing). Silakan!

Sakti : Sakti, Pak.

Masrizal : Saya Masrizal. Panggilannya, Rizal.

Sakti : Kalau ini?

Lendo : Kalau ini Pak Donny. Pak Donny ini semacam pembantu rektor untuk bidang akademik.

Sakti : Apa kabar, Pak Donny?

Sakti : Nah, saya tertarik dengan Pak Masrizal nih, denger-denger Pak Rizal ini kan dulunya seorang senior manager di Coca Cola. Nah, apa yang membuat tertarik untuk ikut mengajar di Sekolah Alam begitu?

Masrizal : Saya juga punya harapan adik-adik di sini, atau mahasiswa di sini, atau siswa di sini bisa memahami atau mengembangkan digital marketing terutama untuk bidang bisnis yang mereka kembangkan.

Saya melihat di sini yang kemaren tahun lalu kita ajarin itu udah kelihatan bisnisnya gitu. Jadi mereka hanya dalam 1 semester, 3 bulan, growth business-nya bisa kelihatan.

Bahkan ada yang double digit, yang bisnis travel. Sampai sekarang malah dia bisa mengembangkan, dia punya porto folio lain. Itu hal yang luar biasa sebagai mentor atau maestro.

Narasi : Iman Kurnia adalah salah seorang pengajar yang telah bergabung dengan Sekolah Alam sejak pertama kali Sekolah Alam didirikan pada tahun 1998 di Ciganjur, Jakarta Selatan.

Iman : Yang paling menyenangkan itu di antaranya bisa mengantarkan anak-anak mencapai mimpinya sesuai minat bakat, karena 20 tahun ini takes time, sehingga saya bisa melihat mereka berkembang menjadi orang yang, dari dulu mereka mau jadi apa, dan jadi seperti itu.

Semua anak adalah bintang, karena mereka itu punya kelebihan sesuai dengan syakila sesuai dengan minat dan bakat, sehingga semua orang ini spesial dan hebat tentunya.

Sakti : Pak Lendo, saat ini kita ada di bangunan apa nih?

Lendo : Kita menyebutnya bangunan yang hilang, yang tembus begitu. Jadi di antara alam dengan bangunan ini menyatu.

Sakti : Nah, kalau kita bicara tentang Sekolah Alam yang Bapak dirikan, ini kan jenjang pendidikannya lengkap sekali mulai dari TK, sampai perguruan tinggi. Nah, ini apakah memang dari dulu sudah dipikirkan memang dari awal mula sudah dipikirkan, atau ini sambil berjalan?

Lendo : Saya waktu itu hanya mau fokus di pendidikan dasar. Tapi setelah kami kembangkan, orang tua menuntut "Kami tidak mau anak kami di sekolah yang tidak seperti ini". Udah gitu kita mulai membangun sekolah menengah. Nah, setelah kita pelajari kenapa anak-anak itu senang membangkang, dan sebagainya saat usia menengah ini karena dia sedang belajar menjadi orang dewasa sedang belajar mengatur dirinya sendiri.

Diperlukan sebuah kesabaran dan metode tertentu sehingga yang namanya sekolah menengah itu tetap membahagiakan anak, tetapi seluruh potensinya keluar. Akhirnya kita menemukan format yang paling ideal untuk membuat sekolah menengah itu, adalah sekolah bisnis.

Karena kalau kita bisnis, kita belajar mengatur keuangan sendiri mencari nafkah sendiri, intinya dia belajar mandiri. Nah, pendidikan sekolah menengah itu harus mengajarkan kemandirian. Dan ini yang kami yakini, kalau seluruh sekolah di Indonesia mengajarkan anak berbisnis pada usia remaja dijamin kita tidak kesulitan dalam membangun ekonomi. Karena syarat sebuah negara supaya ekonominya berkembang, itu minimal 4 persen dari seluruh populasinya itu adalah pengusaha.

Nah, pada saat kita sedang menyusun pendidikan untuk sekolah menengah kita menemukan formula 4 tahun. Jadi SMP 2 tahun, SMA 2 tahun. 

Akhirnya kami mendirikan perguruan tinggi sendiri. Jadi kita menjamin seluruh konsep pendidikan kita dari A sampai Z itu utuh dan anak-anak itu tidak perlu problem dengan masalah ijazah, masalah status.

Sakti : Persepsi yang timbul di masyarakat kan agak relative mahal. Nah, caranya gimana agar persepsi di masyarakat ini bisa berubah, "Oh, Sekolah Alam terjangkau". Kemudian juga supaya Sekolah Alam-nya sendiri bisa mandiri, seperti apa, Pak?

Lendo : Kunci keberhasilannya ada di pengusaha-pengusaha sukses yang bersedia untuk dimagangkan oleh siswa kami. Dengan konsep seperti itu, sebenarnya biaya pendidikan itu bisa nol rupiah.

Kami sedang membangun kampus digital. Kampus digital ini bisa memungkinkan semua anak di Indonesia, mau miskin sekalipun, bisa kuliah. Kenapa? Karena knowledge-nya sekarang gratis, ada gi google, ada di Youtube, segala macam. Artinya dia punya gadget, dia bisa kuliah sehingga dia dapat knowledge dari kampus kita dia dapat skill dari maestronya.

Harapan kami dalam waktu 5 tahun itu mahasiswanya bisa 1 juta orang. Ada di Amerika, sebuah digital campus, namanya Coursera yang dibangun tahun 2012. Itu dalam waktu 5 tahun, mahasiswanya 33 juta orang dari seluruh dunia.

Sakti : Nah, kalau bicara harapan, selain ingin me-launching kampus digital ini harapan jangka pendek maupun jangka panjang, 5 sampai 10 tahun lagi seperti apa, Pak?

Lendo : Kalau dunia industri bersatu dengan dunia pendidikan seperti konsep Learning From maestro maka tidak ada lagi issue orang tidak bisa sekolah karena tidak punya biaya.

Jadi mimpi saya itu nanti antara industri dan pendidikan itu menyatu. Orang belajarnya bukan di sekolah-sekolah, tapi di orang-orang terbaik di sekitarnya sesuai bakat dan minat.

Dan ini kami perhatikan dari sejarah hidupnya Rasullullah. Rasullulah itu sejak kecil sampai dia dewasa, belajarnya magang. Itu konsep belajar yang sejati. Kebetulan ada yang namanya digital. Digital ini sebetulnya seperti mukjizat yang Tuhan berikan kepada kita untuk mengintegrasikan konsep-konsep yang ada menjadi lebih mudah dan murah.

Sakti : Pak Lendo, kalau kita bicara regenerasi sudah disiapkan belum Pak, proses regenerasi seperti apa yang akan dilakukan di School of Universe ini?

Lendo : Kami sudah merangkum kurikulum kami yang 4 itu dalam sebuah buku. Kita lakukan selama 20 tahun. Dan ini kita sebar ke seluruh jejaring Sekolah Alam, maupun bukan Sekolah Alam.

Di kami itu, kita bikin yang namanya Jaringan Sekolah Alam Nusantara. Kita sudah bikin 10 tahun yang lalu. Jadi seluruh Sekolah Alam bergabung di jaringan itu. Nah, tiap 2 tahun kita Jambore.

Nah, dari situlah terjadi pengayaan, gitu. Nanti yang terakhir, yang jadi benteng kami terakhir itu, ada yang namanya basic training.

Dengan 3 cara itu kita bisa pastikan Sekolah Alam tetap sustain. 

Sakti : Terakhir, Pak, ada pesan gak untuk para orang tua yang mungkin bingung bagaimana caranya mendidik anak mereka sesuai dengan bakat dan minat, dan juga memiliki kepemimpinan yang baik? Caranya bagaimana, Pak?

Lendo : Ada sebuah penelitian menarik di Psikologi UI tahun 2013. Itu, 87 persen mahasiswa itu salah pilih jurusan. (Saya termasuk, Pak) Saya juga termasuk.

UNDP waktu itu merekomendasikan, Indonesia kalau mau maju, yang dibangun itu industri kreatif. Artinya talenta kita itu justru di industri kreatif. Di dunia itu, yang punya seperti itu cuma Indonesia.

Sekolah Alam sejak awal sadar, kita punya kekuatan. Dan kita harus bangun kekuatan itu, sehingga kita jadi yang terbaik.

Sakti : dirintis sejak 20 tahun yang lalu, Sekolah Alam berupaya untuk menjadi salah satu solusi untuk masalah pendidikan di negeri ini.

Sekolah Alam dirancang sedemikian rupa untuk menjadi tempat yang membahagiakan dimana anak menemukan serta mengasah bakat dan minatnya untuk menjadi seorang pemimpin yang mandiri, berakhlak, serta mampu menjawab tantangan zaman.

Demikian episode Filantropi kali ini.

Terima kasih atas perhatian dan juga kebersamaan Anda! Saya, Sakti Al-Fattaah.

 

Sampa jumpa!

 

Mabit SD4-6 2019

Usia remaja merupakan usia yang sangat penting bagi perkembangan seorang anak. Pada usia ini seorang anak mengalami proses transisi dari usia anak-anak menuju usia dewasa. Pada masa transisi ini, kondisi fisik dan mental seorang anak akan mengalami penyesuaian. Oleh karena masa transisi ini tergolong saat-saat yang kritis, maka seorang anak perlu mendapatkan perhatian dan bimbingan yang cukup intensif. Pada usia ini seorang anak cenderung melakukan hal-hal yang kurang sesuai dengan norma dan aturan sebagai dampak dari proses pencarian jati diri.

Salah satu hal yang perlu diperhatikan pada anak-anak di usia remaja adalah pergaulannya dengan teman-teman yang berbeda gender. Hal ini sudah menjadi lazim di kalangan masyarakat modern dimana sebagian remaja laki-laki tidak membatasi pergaulannya dengan teman perempuan, begitu pula sebaliknya. Oleh karena itu tidak heran jika banyak anak-anak usia remaja terjerumus ke dalam pergaulan bebas yang pada akhirnya membawa petaka bagi mereka. Tentunya kita tidak menginginkan hal ini terjadi pada anak-anak kita.

Islam sebagai agama yang rahmatan lil'alamin dengan sangat cantik mengatur hubungan antara laki-laki dan perempuan. Namun sayangnya sebagian dari ummat muslim tidak memahami aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan rasul-Nya. Oleh karena itu, sebagian ummat muslim terjebak dalam arus sosial budaya yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam sehingga anak-anak remaja muslim terjerumus ke dalam perbuatan maksiat. School of Universe sebagai Institusi pendidikan yang turut menaruh perhatian besar pada penanaman nilai-nilai akhlak islami berkewajiban membimbing seluruh siswa untuk dapat mengamalkan nilai-nilai dan akhlak islam.

Oleh karena itulah SD 4, SD 5 dan SD 6 School of Universe dimana seluruh siswanya adalah anak-anak yang sedang berada di wilayah usia transisi tersebut bermaksud mengadakan Malam Bina Iman dan Taqwa (Mabit) dalam rangka mengajak dan menumbuhkan kesadaran siswa untuk lebih berhati-hati dalam menjaga pergaulan antara putra dan putri.

Tujuan dari dilaksanakannya acara ini antara lain membangun kesadaran siswa untuk meningkatkan kualitas iman dan takwa, membangun kesadaran siswa untuk menjauhi perbuatan maksiat, dan menambah wawasan dan khasanah islamika bagi para siswa.

Bertempat di School of Universe, kegiatan ini akan dilaksanakan pada tanggal 7 hingga 8 Februari 2019 dengan peserta siswa dan siswi kelas SD 4, SD 5 dan SD6