All for Joomla All for Webmasters
admin@school-of-universe.com
0251 860 3233    
0856 8080 868
6e5de495cb62b3cdcae9358639a1b1f4.jpg

Yuk, Ajarin Anak 10 Sopan Santun ini Sejak Dini

Yuk, Ajarin Anak 10 Sopan Santun ini Sejak Dini

Anak-anak ibarat kertas putih yang menunggu coretan terindah orang tua dan lingkungannya. Tentu hanya yang terbaik ingin ditularkan kepada sang buah hati. Namun, hal itu membutuhkan pembiasaan dan pengajaran sedari dini. Termasuk soal sopan santun. Dengan mengajarkan sopan santun sejak usia dini, maka harapan menjadi anak yang baik akan lebih mudah jadi kenyataan.

Tidak perlu yang rumit-rumit dulu, sepuluh contoh sopan santun berikut ini tentunya mudah ditirukan oleh anak Anda. Simak rinciannya berikut ini.

Belajar Menghormati Orang yang Lebih Tua, Dimulai dari Panggilan

Ini tentunya hal ringan yang pasti mudah ditiru anak-anak. Ajarkan memanggil saudara dan orang-orang yang lebih tua, bahkan orang yang belum dikenalnya dengan panggilan sesuai tradisi yang berlaku di keluarga atau masyarakat Anda. Bisa kak, om, paman, atau tante misalnya.

Meminta dan Memberi Maaf

Bila tak terbiasa, orang akan merasa gengsi atau rendah, jika meminta maaf terlebih dahulu. Karenanya, belajar mengucapkan maaf sejak dini merupakan etika yang penting. Saat anak-anak bermain dan cekcok dengan temannya, jadilah penengah yang bisa melatih mereka saling meminta maaf.

Meminta Tolong dan Berterimakasih

Meminta tolong merupakan cara sopan untuk memerintahkan orang membantu kita. Sedangkan ucapan terima kasih menjadi bentuk apresiasi positif pada tindakan si penolong. Mulai biasakan si kecil untuk meminta bantuan dengan sopan memakai kata tolong, dan mensyukurinya dengan berterimakasih.

Meminta Izin dengan Permisi

Norma yang ringan diajarkan pada anak-anak selanjutnya ialah ucapan permisi atau yang sejenis. Ucapan ini lazim digunakan untuk meminta izin melakukan sesuatu yang mungkin kurang pantas. Misalnya lewat di depan orang tua yang duduk ataupun akan masuk ke kamar Ayah dan Bunda, jika anak Anda sudah tidur sendiri.

Tidak Menyela Pembicaraan Orang Tua dengan Tamu

Anak juga harus diajarkan etika kepada tamu sejak dini. Jelaskan padanya bahwa menyela pembicaraan ayah atau bunda ketika sedang ngobrol dengan tamu itu tidak baik. Ajari ia untuk menunggu saat orang sudah selesai bicara atau sedang jeda.

Mengetuk Pintu dan Mengucap Salam

Mulai ajari anak Anda sopan santun berkunjung dengan mengetuk pintu dan mengucap salam terlebih dulu. Bahkan bagi yang muslim, masuk ke rumah sendiri pun dianjurkan untuk mengucapkan salam sebagai doa keberkahan keluarga.

Bicara dengan Menatap Lawan Bicara

Sopan santun yang satu ini juga harus diajarkan sejak dini. Jelaskan bahwa dengan menatap lawan bicara, merupakan cara untuk menghormatinya dan menunjukkan bahwa kita memperhatikan pembicaraan. Di luar sopan santun, menatap lawan bicara bisa menjadi bekal keberanian si kecil.

Jiwa Sosial, Mulai dari Hal Kecil

Membentuk pribadi dermawan dan suka menolong juga baik dibiasakan sejak dini. Saat memberi sedekah ke pengemis, suruhlah anak Anda yang memberikan uang. Bisa juga ketika belanja di minimarket, sejumlah uang kembalian langsung Anda serahkan pada si kecil untuk dimasukkan ke kotak amal yang biasa dipasang.

Menghormati dan Kasih Sayang Sesama

Bimbing anak Anda untuk tidak menghina temannya yang kurang beruntung atau sedang melakukan kesalahan. Sopan santun ini baik ditanamkan sejak kecil agar anak memiliki rasa hormat pada sesama dan juga kasih sayang.

Tidak Mengucapkan Kata-kata Negatif dan Kasar

Sopan santu dalam berkata juga harus ditanamkan sejak dini. Jangan biarkan anak Anda menirukan ucapan kasar, makian, ataupun ejekan yang ia dengar dari lingkungan. Jelaskan bahwa hal itu tidak baik dan bukan ciri anak yang baik. Berikan juga teladan dengan tidak mengeluarkan kata kasar di hadapan anak.

Nah, itulah 10 sopan santun yang patut diajarkan sejak dini. Mungkin lain tempat lain pula tradisi kesopanan yang berlaku. Namun, 10 poin di atas merupakan hal yang umum berlaku.

 

sumber : educenter

Terbongkar... Rahasia Sukses Pendidikan di Finlandia!

Terbongkar... Rahasia Sukses Pendidikan di Finlandia!

KOMPAS.com - Selama ini masyarakat Indonesia cukup banyak membaca dan melihat berita mengenai nyamannya bersekolah di Finlandia. Apa bedanya sekolah di Indonesia dengan di negara kecil tersebut? Begitu banyak ulasan di Facebook atau Youtube mengenai Finlandia. Beberapa dari kita mungkin juga penasaran, apakah benar di sana murid-murid tidak diberi PR, dan tidak ada ujian?

Apa benar murid-murid di Finlandia tidak dibiarkan menghafal? Kalau benar, pasti menyenangkan sekali. Bukan begitu? Tak heran, banyak yang penasaran tentang pendidikan di negara kecil jumlah total penduduk tak lebih dari 6 juta orang tersebut. Siswa-siswa Finlandia selalu memperoleh peringkat atas pada tes PISA atau Programme for International Student Assessment.

Dipikir-pikir, apa mungkin negara dengan jumlah penduduk separuh Jakarta ini bisa memiliki kualitas pendidikan tingkat dunia? Apalagi, negara ini tidak seagresif negara-negara lain seperti Amerika Serikat, Jepang, Hongkong, atau Singapura misalnya, yang menyetel pendidikan mereka menjadi lebih cepat.

Di Indonesia, rasa penasaran terhadap pendidikan di negara nordik ini mengemuka kembali. Ini terjadi terutama setelah muncul muncul gagasan untuk memberlakukan sistem full day school dalam sistem pendidikan nasional. Gagasan yang dilontarkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy sejak awal 2016 dan sempat mendapat "lampu hijau" dari Presiden Joko Widodo) itu mendapat bermacam respon penolakan. Sebagian besar mempertanyakan seberapa jauh durasi sekolah formal mampu berbanding lurus dengan kualitas pemahaman siswa. Ada yang mengatakan hal ini justru akan membebani siswa, keluarga, bahkan guru. Tak ayal, banyak juga yang membandingkan dengan sistem pendidikan di negara-negara lain. Dari situlah, orang merujuk pada segala yang terjadi di Finlandia.

 

Pendidikan ala Finlandia

Apa yang sesungguhnya terjadi di Finlandia barangkali bisa memberi pencerahan. Timothy D. Walker, dalam buku terbarunya Teach Like Finland atau Mengajar seperti Finlandia membocorkan beberapa kunci dan strategi sederhana tentang pendidikan di Finlandia.

Timothy atau akrab disapa Tim menulis buku ini berdasarkan pengalamannya sendiri sebagai mantan guru di AS yang mengajar di sebuah sekolah dasar di Finlandia. Tim menemukan beberapa kesimpulan. Pertama, pendidikan di Finlandia sangat memperhatikan kesejahteraan (well-being), baik itu murid maupun guru. "Di hari-hari pertama mengajar, saya menghabiskan waktu istirahat untuk mengecek materi pengajaran saya atau mengecek email, seperti yang biasa saya lakukan di AS. Sementara itu, guru-guru Finlandia malah bersantai di ruang guru sambil ngopi," tulis Tim. 

Tidak berapa lama, seorang guru mendatangi Tim dan mengajaknya bergabung, sambil berkata, "Saya sangat khawatir dengan kesehatan Anda. Apakah Anda tertekan, ingat Anda adalah tuan atas pekerjaan, jangan sampai diperbudak oleh pekerjaan."Tim melihat itu sebagai salah satu paradigma yang sangat positif. Pendidikan di Finlandia memperhatikan dengan sungguh, kesejahteraan, baik fisik maupun batin setiap individu. Ini tampak pula dalam kebijakan bagi para siswa.

Siswa di Finlandia gemar memanfaatkan waktu rehat untuk bermain dan berkejar-kejaran, bahkan tiap sekolah menyediakan alat bermain. Para siswa juga diminta untuk bergabung di sebuah klub minat dan bersosialisasi di lingkungan tempat tinggalnya. Ini sangat memungkinkan sebab total jam sekolah rata-rata hanya 18 jam per minggunya.

 

Adakah PR di Finlandia?

Sepertinya itu adalah mitos yang telanjur populer, dan sayangnya, menurut Tim, itu tidak benar. Para siswa tetap mendapatkan PR, namun diberikan dengan sangat memperhitungkan tingkat kesulitannya.

Para guru memberikan PR yang tidak berat, bahkan rata-rata dapat dikerjakan dalam waktu 30 menit saja. Intinya, mereka ingin para siswa benar-benar mendapatkan istirahat yang cukup sepulang sekolah, dan dapat melanjutkan aktivitas yang lain. Selain itu, Tim juga melihat bahwa para siswa rata-rata mandiri. Sekolah dan masyarakat Finlandia bekerja sama untuk mengupayakan siswa-siswa yang mandiri.

Percayalah, Anda akan terkaget-kaget melihat siswa SD yang pergi-pulang sekolah sendirian, naik bus atau kereta. Dari semangat mandiri itulah para siswa terbiasa untuk berpikir dengan cermat, bahkan menembus batasannya. Selain hal-hal itu, Tim menyebutkan kunci lainnya, seperti upaya untuk memberikan rasa dimiliki atau sense of belonging, ikhtiar untuk mengajarkan hal-hal yang mendasar, kemampuan untuk bersatu dengan alam yang damai, dan masih banyak lagi.

 

Nasihat Pamungkas

Bab terakhir buku ini berjudul unik: Jangan Lupa Bahagia! Ini merupakan tips pamungkas di penghujung buku. Tim hendak menggarisbawahi bahwa esensi pendidikan yang sewajarnya berjalan seiring dengan prinsip universal hidup bagi masing-masing orang. Kebahagiaan diberi tempat yang utama dalam kurikulum di Finlandia.

Orang Indonesia tentu sering mendengar banyak orang tua atau guru yang tergoda untuk "mencambuk" anak sendiri untuk bisa menguasai banyak hal di luar kemampuannya. Anak-anak pun bekerja dengan tanpa henti, belajar dengan tergesa-gesa. Akibatnya apa? Pendidikan berjalan dengan terpaksa sebab lebih seperti sebuah siksaan. Pendidikan menjadi tidak menyenangkan. Ya, di Finlandia sistem pendidikan yang membahagiakan menjadi fokusnya. Anak yang gembira mempelajari banyak hal dengan enteng.

Tentu saja, masih banyak hal-hal menarik tentang seluk belum pendidikan di Finlandia di buku ini. Anda tertarik untuk membaca lebih lanjut Teach Like Finland?

 

sumber : kompas.com

Sistem Pendidikan Terbaik Dunia: Membandingkan Finlandia dan Singapura

Sistem Pendidikan Terbaik Dunia: Membandingkan Finlandia dan Singapura

 

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana segera mengimplementasikan program penguatan karakter siswa melalui program 8 jam di sekolah. Kebijakan akan dimulai pada tahun ajaran 2017/2018.

Banyak kalangan lantas menyebut program tersebut sebagai full day school, meski Mendikbud Muhadjir Effendi meminta kebijakan itu tak disebut demikian karena tak seluruhnya dari 8 jam itu digunakan untuk belajar.

“Program tambahannya adalah program kokurikuler dan ekstrakurikuler, jadi penunjang dari intrakurikuler. Penunjang belajar di sekolah untuk penguatan karakter,” ujar Muhadjir di Jakarta, Rabu Rabu (14/6).

Berbicara soal sistem pendidikan, bagaimanakah sebetulnya sistem pendidikan di negara-negara lain di dunia?

Mari kita ambil contoh Finlandia dan Singapura. Hampir di semua kategori dalam ranking Programme for International Student Assessment (PISA) tahun 2015, kedua negara ini masuk 5 besar.

PISA merupakan survei tiga tahunan yang menguji kemampuan siswa berusia 15 tahun untuk tiga bidang, yakni membaca, matematika, dan sains. Survei ini diinisiasi Organisation for Economic Cooperation and Development (OECD)

Sementara itu Indonesia sendiri  mendapat ranking 62 di bidang sains,  63 di bidang matematika, dan 64 untuk membaca.

Finlandia dan Singapura merupakan contoh menarik karena keduanya memiliki pendekatan berbeda dalam memberikan pendidikan kepada anak bangsanya, namun sama-sama mendulang sukses.

Finlandia terkenal dengan sistem pendidikan santai yang tak memforsir dan menekan siswanya, sementara sistem pendidikan di Singapura cenderung sangat disiplin dan membuat siswanya mati-matian belajar.

 

Kepemilikan Sekolah

Finlandia menyediakan pendidikan gratis bagi warganya, bahkan hingga jenjang sarjana. Hampir semua sekolah di Finlandia merupakan sekolah yang dibiayai dari pajak dan berstatus sekolah negeri.

Hal ini membuat tidak ada perbedaan berarti antarsekolah, baik dari segi fasilitas dan kualitas. Universitas yang ada pun semuanya negeri, sehingga tak ada tekanan berlebih bagi para siswa untuk mendapatkan universitas berkualitas.

Sementara di Singapura, banyak berdiri sekolah-sekolah swasta. Sama seperti di Indonesia, sekolah negeri di Singapura secara tidak langsung memiliki kasta --sekolah unggulan dan non-unggulan.

Saat tes masuk universtias negeri pun, para siswa terpacu bersaing habis-habisan untuk mendapatkan universitas negeri. Hal ini karena masih ada kecenderungan perusahaan-perusahaan atau lembaga pemerintah melihat calon pekerja dari latar belakang kampusnya.

[Baca juga: Murid Indonesia Sayang, Murid Kami Malang]

 

Jam Belajar

Sekolah di Finlandia hanya menghabiskan waktu sekitar 4-5 jam sehari. Siswa bahkan akan mendapatkan waktu sekitar 15 menit untuk beristirahat tiap 45 menit belajar.

Pemerintah lebih mengutamakan kualitas dibanding kuantitas.

Pendeknya waktu sekolah juga dianggap memberi keleluasaan dan kesempatan bagi para siswa untuk menambah dan mempelajari ilmu-ilmu lain di luar sekolah.

Saat di sekolah, para siswa juga diberi kebebasan untuk memilih seragam yang dikenakan dan  pelajaran yang ingin dipelajari.

Singapura berbeda, baik sekolah swasta maupun negeri memiliki jam sekolah lebih lama. Antara 6-8 jam, belum lagi kegiatan belajar tambahan seperti les atau pemantapan.

 

Sekolah di Singapura

Urusan makan siang pun ikut terpengaruh. Para siswa kerap makan siang pada waktu telat (jam 2-3). Tentu berat membayangkannya, apalagi buat orang Indonesia yang biasa makan siang sekitar jam 12.

Di Singapura, hampir tiap sekolah memilki seragam khusus bagi para muridnya, dan pemilihan mata pelajaran tak bebas seperti di Finlandia.

 

PR dan Ujian

Bahagia. Mungkin itu yang dirasakan para siswa di Finlandia. Tangan tak akan terasa pegal karena mengisi Lembar Kerja Sekolah (LKS) atau menulis esai di buku tugas.

Para siswa jarang sekali diberi PR dan kesempatan lebih untuk bermain. Ujian nasional pun hanya berlaku pada sekolah menengah --hanya sebagai bahan evaluasi pemerintah, dan bukan jadi indikator kelulusan siswa.

Ingin tahu bagaimana PR dan ujian di Singapura?

Coba ingat-ingat apa yang kamu alami saat masa-masa sekolah. Stres bukan? Sama juga di Singapura.

 

Sekolah di Singapura

Namun peringkat Singapura dan Indonesia berbeda jauh meski yang dirasa murid-muridnya sama. Ini salah satunya karena sulitnya pemerataan fasilitas dan kualitas pendidik di nusantara dengan penduduk lebih dari 200 jua jiwa. Tentu tak bisa dibandingkan dengan Singapura yang luasnya tak jauh beda denga DKI Jakarta.

Faktor lain yang kerap disebut memengaruhi perkembangan pendidikan di Indonesia adalah masalah konsistensi kurikulum. Mulai dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK), Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), dan Kurikulum 2013, hanyalah sebagian dari perubahan kurikulum yang pernah terjadi di Indonesia yang jumlahnya mencapai belasan.

Pada akhirnya, semua keputusan berada di tangan pemerintah. Apakah akan bertahan dengan sistem pendidikan saat ini yang lebih mengacu pada kesuksesan ala Singapura? Ataukah mendekatkan diri pada “mazhab” Finlandia dan merealisasikan penghapusan Ujian nasional yang kini tinggal wacana?

Jika kebahagiaan para siswa yang jadi tolak ukur, mungkin ada baiknya Indonesia mencoba mencontoh Finlandia. Dalam World Happiness Report 2017, Finlandia berada di urutan ke-5 negara paling bahagia sedunia, sedangkan Singapura ada di urutan ke-26.

Indonesia? Kita ada di peringkat 81 --di bawah rata-rata ASEAN dan dunia.

Jadi, sistem pendidikan mana yang lebih kamu suka?

 

sumber : kumparan.com

Page 2 of 2