All for Joomla All for Webmasters
admin@school-of-universe.com
0251 860 3233    
0856 8080 868
slide01
slide02
slide03
slide04
slide05
slide06

MUNAS IV JSAN

Menuju 25 tahun Gerakan Sekolah Alam

Pada tahun 2019 ini, sudah 20 tahun sejak sekolah alam pertama didirikan oleh Lendo Novo di Ciganjur Jakarta Selatan. Seiring dengan makin diterimanya konsep pendidikan sekolahalam di Indonesia, inilah saatnya untuk menentukan peta sekolah alam untuk 20 tahun ke depan.

Empat tahun berlalu sejak Munas III di Bogor, berbagai kegiatan dan karya telah dilakukan bersama. Kini saatnya di Musyawarah Nasional IV menyegarkan kembali langkah JSAN dengan memilih pengurus baru JSAN yang akan menjadi pengurus periode 2019-2023.

Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) adalah jejaring bagi para guru dan pegiat sekolah alam se-nusantara, sebagai wadah berbagi semangat, inspirasi, pengetahuan dan gagasan. Sejak berdirinya Sekolah Alam Ciganjur di tahun 1998, konsep sekolah alam telah diadopsi di berbagai daerah, mulai Aceh hingga Papua. Pada tanggal 1-3 Juli 2011, bertepatan dengan acara Jambore Sekolah Alam Nusantara di Lembang, dibentuklah Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) sebagai wadah sekolah alam se-nusantara. Saat ini, tidak kurang dari 120 sekolah alam bergabung dalam jaringan.

Pada kesempatan Musyawarah Nasional IV ini juga digelar acara Konferensi Siswa Sekolah Alam. Konferensi Siswa Sekolah Alam menampilkan serangkaian proyek penelitian dengan tema "Change Our Relationship with the Planet". Agenda ini mengundang siswa sekolah alam usia 14 - 19 tahun untuk mempresentasikan proyek penelitian mereka dalam rangkaian acara Munas JSAN IV. Dalam konferensi ini, beberapa siswa sekolah alam yang pernah mengikuti konferensi internasional yang dihelat CEI (Caretakers of the Environment International) akan turut hadir sebagai panelis.

Sebagai salah satu pilar kurikulum sekolahalam, entrepreneurship atau kewirausahaan adalah jiwa yang senantiasa ditumbuhkan dalam proses pendidikan setiap siswa. Tak heran, beberapa siswa SA dan para alumninya telah berwirausaha dalam usia muda. Forum Pebisnis Muda Sekolah Alam mengumpulkan para siswa dan alumni sekolah alam untuk memamerkan dan mempresentasikan bisnisnya di hadapan panelis dan para pengunjung festival.

Mengambil spirit Jogja sebagai kota pendidikan dan kota perjuangan, JSAN bertekad untuk menancapkan sekolah alam sebagai konsep pendidikan yang membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Acara Munas kali ini diadakan di area Benteng Vredeburg dan Taman Budaya Yogyakarta. Sebuah area yang juga dekat dengan KM 0 kota Yogyakarta. Sebagai penanda niat untuk memulai kembali pembangunan peradaban Indonesia dan dunia melalui pendidikan dengan konsep sekolah alam.

Pembicara dalam Munas ini adalah Lendo Novo, Konseptor Sekolahalam, Achmad Zaky CEO Bukalapak, Azzam Habibullah, Penulis Muda dan Nurul Khamdi Ketua JSAN.

 

http://munasjsan.weebly.com

Kisah inspiratif ayah bunda

Inspirasi bisa datang dari mana dan kapan saja. Salah satu cerita yang dikisahkan dari salah satu dan salah dua orang tua siswa School of Universe ini mudah-mudahan dapat menginspirasi kita semua. Izin kopas dari facebook bundanya Wahyu di SD 6 dan bundanya Kayne juga di SD 6. 

Kisah pertama dari bundanya Wahyu berjudul : "Membayar Perjalanan dengan Thai Tea"

Backpacker sudah masuk ke dalam kurikulum wajib yang harus diikuti oleh seluruh siswa kelas enam SD School of Universe Parung. Melalui program ini, anak-anak dilatih untuk bisa merancang perjalanan yang akan mereka jalani secara mandiri. Mulai dari menentukan destinasi, menyusun acara, memilih dan memesan moda transportasi yang digunakan sampai dengan konsumsi dan biaya sepenuhnya menjadi tanggung jawab anak.

Jauh sebelum matahari terbit, saat udara masih terasa menusuk tulang dan kabut pun masih setia menyelimuti aku harus bergegas menuju Lapangan Sempur di Bogor yang selalu ramai dengan warga yang bermaksud menghabiskan hari Minggu pagi mereka. Ada yang berolahraga atau hanya sekedar duduk dan bermain bersama anak-anak.

“Jualannya sudah siap Mas?” tanyaku pelan sambil berjalan dari parkiran.

“Sudah Bu.” Jawab Rohman singkat.

“Mas segera berkeliling lapangan sambil menawarkan thai tea kepada setiap orang yang ditemui dengan sopan nanti ibu tunggu di sini.”

Dengan muka yang terlihat cemas, Rohman mulai berjalan pelan sambil membawa kotak yang berisi beberapa botol thai tea. Ada rasa tak tega membiarkan dia menahan malu menjajakan barang dagangan, namun ini adalah sebuah pembelajaran bahwa tak ada hasil tanpa sebuah proses.

“Ibu tidak bisa begitu dong!” sebuah suara ketus sekita membuyarkan anganku.

“Maaf, maksudnya apa ya Pak?” tanyaku heran, saat seorang bapak tua yang duduk tak jauh dari tempatku berujar.

“Sebagai seorang ibu, masak tega menyuruh anaknya berjualan sedangkan dirinya sendiri malah asik duduk saja!” tanpa mengurangi intonasi suaranya si bapak masih terdengar berang.

“Ini adalah program sekolah Pak, jika bisa memilih lebih baik saya istirahat di rumah karena saya tidak pernah bermaksud untuk memperkerjakan anak.”

Entah karena malu atau tak enak hati telah memvonis salah, tanpa permisi bapak tua tersebut langsung pergi begitu saja. Mataku nanar, mencoba menemukan sosok kecil Rohman diantara kerumunan orang yang tampak berlalu lalang. Matahari yang mulai tampak garang, tak sedikitpun menyurutkan semangat dan tekad Rohman untuk menjual sebanyak mungkin botol thai tea yang dibawanya.

Kejadian itu ternyata sudah tiga tahun yang lalu, namun terasa masih sangat segar dalam ingatan. Rohman bisa melalui satu fase dalam hidupnya dan backpacker ke Palembang kala itu juga berlangsung lancar. 

******

Saat ini aku pun harus siap menerima kenyataan bahwa adik mulai bersiap dengan pengumpulan dana untuk backpacker ke Dieng. Waktu terasa berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin aku menimangnya namun ternyata saat ini dia telah tumbuh menjadi pribadi yang cukup mandiri.

“Bu, waktu untuk pengumpulan dana backpacker hanya ada tiga bulan. Aku nanti bisa tidak ya untuk mengumpulkan sesuai target?” gumam Wahyu pelan.

“Kenapa harus takut, bukankah rezeki itu Allah yang mengatur dan kita hanya perlu berusaha sungguh-sungguh.”

“Adik mau jualan thai tea setiap hari ke sekolah, tapi siapa dong yang bantu membuatkan thai tea karena ibu dinas luar kota?”

Ada raut sedih yang jelas tergambar dari wajah polos Wahyu, perasaan bersalah pun seketika menyergap relung hati kecilku.

“Tidak usah khawatir Dik, nanti ayah yang akan bantu siapkan keperluan jualan kamu, nah sekarang kita bersiap mengantar ibu ke bandara ya.”

“Siap Ayah.” Jawab Wahyu dengan penuh semangat.

Ada sebuah perasaan yang begitu sulit diungkapkan dengan kata-kata, ketika setiap pulang sekolah Wahyu dengan penuh semangat bercerita siapa saja yang telah membeli thai tea yang dia jual sehingga dagangan yang dibawa setiap harinya selalu habis terjual. Binar di matanya menceritakan banyak hal, tentang harapan dan impiannya.

“Bu, nanti pas sudah mau berangkat ke Dieng boleh tidak aku membeli jaket baru?” tanya Wahyu dengan penuh harap.

“Boleh, itu artinya kamu harus berjualan lebih giat sehingga ada uang lebih untuk membeli jaket.” Jawabku singkat.

“Kok begitu?” ujar Wahyu penuh tanya.

“Karena jaket kamu yang lama masih cukup bagus, jadi kalau mau membeli jaket baru harus dengan tabungan sendiri.” Ujarku tegas saat mencoba memberikan sebuah pemahaman bahwa kita harus membeli sesuatu lebih kepada kebutuhan bukan keinginan.

Suasana ruang baca mendadak sepi, tak tampak lagi sosok Wahyu yang selalu merajuk saat punya suatu keinginan. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini ketika tanpa disadari, dia terlihat mengangguk anggukkan kepala.

“Aku tidak jadi beli jaket Bu!” ujar Wahyu mantap.

“Kenapa memang Dik?” aku merasa takjub dengan jawaban yang tak pernah diduga sebelumnya.

“Karena jika uang backpacker masih tersisa, aku mau tabung untuk bisa pergi umroh dan mengunjungi Turki.” Jawab Wahyu pelan sambil berlalu untuk bersiap diri melaksanakan salat magrib berjamaah di musala komplek.

Tanpa terasa butiran bening menetes dari ujung mataku, anak yang masih duduk di bangku kelas enam SD itu telah tahu apa mimpi dan harapannya serta berusaha keras untuk mewujudkannya. Rasanya malu dengan diriku sendiri, saat seumuran dengannya, aku hanya mampu mengisi hari-hari dengan bermain.

Dia telah paham bagaimana menyusun skala prioritas dan mengerti konsekuensi saat bermimpi besar, maka harus rela berjuang lebih keras. Masya Allah, sungguh tiada daya dan upaya selain atas pertolongan-Nya, semoga Allah selalu menjaga dan membimbing setiap langkah anak-anakku dalam mentadzaburi setiap ciptaan-Nya.

_______________________________________

Berikut kisah dari bundanya Kayne, cukup singkat tapi tidak kalah inspiratif

setelah 5 tahun belajar direct sales, mulai kelas 6 ini kk Kayne belajar online sales

alhamdulillah belajar jadi agent AfraKids, jemput rizki Allah plus syiar Islam ke teman-teman semua, 

semoga berkah Allah untuk kita semua ya, aamiin..

dan selama kk Kayne sekolah, mama manager jadi adminnya yah

Insyaa Allah seluruh hasil penjualan menjadi SHM anak shalih kesayangan mama 

Ga boleh kan mengambil hak orang lain, walaupun hak seorang anak...

Karena Allah Maha Mengetahui apa yang tersirat didalam dada dan semua akan dipertanggung jawabkan kelak..

 

Demikian kisah inspiratif dari para bunda, semoga bermanfaat bagi kita semua. Ditunggu kisah-kisah lain dari ayah bunda sekalian yaa :)

Sumber : facebook 

Menata ulang pendidikan bisnis di Indonesia

Menata ulang pendidikan bisnis di Indonesia? Memangnya pendidikan bisnis kita sudah berkembang? Bukannya pendidikan kita lebih fokus menyiapkan rakyatnya untuk siap menjadi tenaga kerja? Dengan lapangan kerja yg terbatas, rakyat Indonesia secara kreatif berhasil survive dengan menekuni sektor ekonomi non-formal seperti pedagang kaki lima, go-jek, pemulung, pengamen dan banyak lainnya. Dapat dipastikan sebagian besar inisiatif tersebut tidak ada hubungan dengan pendidikan yang mereka dapat di sekolah kecuali calistung?

Pada waktu terjadi gempa di Lombok, kami bertemu dengan sekelompok anak muda kreatif yang berupaya mandiri dengan membuat sebuah komunitas yang dirancang untuk mendampingi wisatawan asing maupun domestik yang tertarik mendaki gunung rinjani. Melalui komunitas ini mereka belajar bahasa Inggris dan bahasa lainnya, mereka juga berupaya mendapatkan sertifikat guide khusus wisata gunung secara professional. Melalui upaya ini mereka berhasil mengajak anak-anak muda yg menganggur bergabung mencari nafkah bersama.

Tibalah waktunya bencana gempa hadir di kampung mereka di kaki gunung rinjani, kami bertemu karena kehendak Allah Swt. Bersama-sama berdiskusi tentang masa depan warga pasca gempa. Dari diskusi ini, kami menawarkan untuk membangun Sekolah Alam Rinjani yang khusus dikembangkan untuk membangun industri wisata gunung Rinjani. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa Sekolah Alam memang dirancang khusus seusai potensi lingkungannya. Kalau di gunung Sekolah Alam akan fokus untuk mengoptimalkan potensi gunung bagi kehidupan warganya sekaligus menjaga keseimbangan alamnya. Begitupun dengan sungai, hutan, laut, pertanian, bahkan kawasan industri sekalipun. Bahasa sederhananya adalah sekolah itu harus mendidik anak-anaknya agar mampu mengembangkan potensi lingkungannya seoptimal mungkin. Di laut, anak-anak akan belajar seluruh aspek kelautan mulai dari diving, membuat kapal, sonar, teknik aquaculture, ilmu tentang cuaca, iklim dan lain sebagainya.

Bisa dibayangkan apabila sejak kecil anak-anak belajar mengoptimalkan lingkungannya, mereka akan tumbuh berkembang secara seimbang bersama alam, mereka pasti bisa mewujudkan misi Rahmatan lil Alamin, sebuah misi yang agung dan diemban oleh manusia paling agung di muka bumi yaitu Rasulullah Saw.

Hari ini Sekolah Alam Rinjani sudah tegak berdiri menyongsong masa depan yang gemilang, dan ke depan kita akan terus membangun Sekolah Alam yang sesuai dengan potensi lingkungannya di seluruh Indonesia. Dengan konsep ini, masyarakat tidak perlu menjadi masyarakat urban. Karena dengan membangun kampungnya sesuai dengan potensi lingkungannya mereka bisa sejahtera dan memberi kebaikan kepada wisatawan dalam bentuk keramahan dan keindahan Alamnya.

Salam hangat, Lendo Novo Sobatalam

Soft Launching Nuefa Digital Campus

Dari 1,8 juta lulusan SMA/MA di Indonesia hanya 30% saja yang melanjutkan pendidikan hingga lulus sarjana. Biaya kuliah yang mahal dan fleksibilitas dalam hal waktu menjadi kendala bagi sebagian orang melanjutkan pendidikan. Inilah potret pendidikan di Indonesia saat ini. 

Di sisi lain, ada sekitar 88 juta pengguna internet di Indonesia. Angka ini terus bertambah dengan pertumbuhan 15%. Dengan demikian, masyarakat Indonesia semakin melek internet dan banyak aktivitas sehari-hari yang dapat dilakukan lewat perangkat digital, termasuk belajar dan kuliah.

Ilmu tidak lagi dibatasi datang ke kelas secara formal, on-line digital menyebabkan semua orang bisa belajar di mana saja dan kapan saja secara efektif

Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi negara terbaik di dunia jika jumlah pengusaha melampaui negara lain. Untuk dapat menghasilkan jutaan pengusaha, maka dibutuhkan terobosan baru dalam sistem pendidikan yang bukan menciptakan pencari kerja, namun pencipta lapangan kerja. 

Banyak pelaku usaha di Indonesia yang terhambat dalam pengembangan bisnis karena minimnya pendidikan atau pengetahuan tentang bisnis dan manajemen. Pada akhirnya mereka akan tersisihkan oleh pelaku usaha besar yang memiliki akses yang lebih baik.

Banyak mahasiswa, pekerja bahkan pebisnis menekuni bidang yang salah, yaitu bidang yang tidak sesuai dengan minat dan bakat uniknya. Alangkah luar biasanya Indonesia jika penduduknya berkarya sesuai dengan minat dan bakat uniknya.

NUEFA Digital Campus adalah sebuah platfrom sistem pembelajaran digital yang memungkinkan semua orang dapat menimba ilmu sesuai dengan kebutuhannya tanpa terkendala oleh ruang dan waktu. NUEFA Digital Campus memungkinkan semua orang dapat mengakses berbagai konten pembelajaran dan melakukan aktivitas pembelajaran dengan bebas sesuai dengan minat dan bakatnya. NUEFA Digital Campus menyediakan konten-konten pembelajaran berbasis 45 minat dan bakat, bisnis dan ilmu pengetahuan yang dibutuhkan bagi seorang pengusaha atau tenaga profesional pemula

Pada tanggal 26 Januari 2019 yang lalu, Nuefa Digital Campus mengadakan soft launching. Sebelumnya Kampus digital yang di inisiasi oleh konseptor Sekolah Alam Bang Lendo Novo ini juga sudah diperkenalkan saat acara wisuda angkatan pertama Maestro School of Technopreneur sekaligus perayaan 20 tahun perjalanan Sekolah Alam. 

Berlokasi di kawasan School of Universe dan Maestro School of Technopreneur, kegiatan launching ini mengundang seluruh sivitas Sekolah Alam di Indonesia, pondok pesantren dari pulau Jawa dan Sumatera. Diharapkan dengan bermitra dengan lembaga pendidikan di seluruh Indonesia, akan menjawab hambatan-hambatan anak-anak Indonesia untuk memperoleh pendidikan hingga Perguruan Tinggi. Dalam acara tersebut juga disimulasikan bagaimana seorang mahasiswa dalam mengikuti kuliah online dengan mentor nya di tempat yang berbeda di waktu yang sama. Platform ini tidak hanya dapat digunakan pada perguruan tinggi, tetapi juga level SMP dan SMA.

Saatnya pendidikan di Indonesia lebih terjangkau, murah dan menghasilkan pengusaha-pengusaha baru yang kreatif, terampil dan sesuai minat bakat.

 

Untuk info lebih lanjut dapat mengacu pada referensi berikut

Website : https://nuefa.id 

Web eLearning : https://elearning.nuefa.id

Facebook : https://www.facebook.com/nuefadigital 

Instagram : https://www.instagram.com/nuefadigital

Twitter : https://twitter.com/NUEFA_Digital

YouTube : https://goo.gl/657mdQ

Google+ :https://plus.google.com/u/6/+NUEFADigitalCampus

Orang Tua Kunci keberhasilan Pendidikan

Dikatakan bahwa sekolah pertama dari setiap anak manusia adalah keluarganya. Dalam sebuah hadits disebutkan yang menjadikan anak-anak itu majusi, nasrani atau yahudi adalah orang tuanya. Dari kedua prinsip diatas, maka yang menjadi kunci keberhasilan dalam pendidikan anak adalah orang tuanya.

Banyak dari kita yang lupa bahwa misi utama Rasullullah Saw diutus sebagai Nabi terakhir adalah : 1. Menyempurnakan akhlak manusia; 2. Rahmatan lil Alamin. Kedua misi inilah yang seharusnya menjadi konten utama pendidikan di dunia, yaitu pendidikan akhlak dan pendidikan untuk melahirkan manusia yang mencintai perdamaian dan ramah lingkungan.

Bagaimana posisi PAUD di masa depan dilihat dari konteks diatas?

Sejatinya Pendidikan oleh Orang Tua dengan PAUD berjalan secara terintegrasi. Materi ajar yang paling tepat diberikan kepada anak-anak baik di rumah maupun di PAUD adalah akhlak dan rahmatan lil alamin.

Perlu diketahui bahwa pada masa kecilnya, Rasulullah Saw dibesarkan di sebuah desa dengan bentangan alam sebagai tempat belajarnya. Menggembala domba di alam bebas merupakan tempat belajar terbaik bagi setiap anak untuk membentuk sikap ramah lingkungan. Di alam terbuka itulah, kelapangan hati dibentuk,  kemampuan bersyukur dibentuk, dan kecintaan terhadap lingkungan dibentuk. Itulah yang kita sebut saat ini sebagai taman kanak-kanak, yaitu sebuah taman tempat anak-anak bermain, mengenal langsung lingkungannya, memperkuat otot-ototnya, memupuk keberanian dan mencari kebahagiaan yang sejati.

Kenapa harus belajar dengan cara bermain? Karena Rasulullah Saw mencontohkannya demikian. Rasulullah Saw setiap bertemu dengan anak-anak pasti diajak bersenda gurau, diajak jalan-jalan menunggang unta dan banyak permainan lainnya. Rasulullah Saw meyakini bahwa setiap anak adalah titipan Allah SWT kepada para orang tuanya. Layaknya orang yang dititipkan oleh Sang Pencipta, maka titipan itu akan dijaganya sedemikian rupa, agar yang menitipkan semakin sayang kepada kita.

Demikian sedikit renungan siang yang dapat membuka wawasan kita bersama. 

 

Salam hangat, Lendo Novo Sobatalam.

Page 1 of 4