All for Joomla All for Webmasters
admin@school-of-universe.com
0251 860 3233    
0856 8080 868
slide01
slide02
slide03
slide04
slide05
slide06

Ngobrol Bareng Lendo Novo - Bahaya banget ngejar gelar dan ijazah

Ketika lahir kita dibekali dengan insting untuk bereksplorasi, semua hal menjadi sangat menarik dimata seorang anak Lalu, seiring waktu sang anak tumbuh dan perlahan semua terkungkung pada satu harga mati bahwa manusia ditakdirkan hanya untuk : lahir, makan, bereproduksi, ngejar gelar dan ijazah biar dapat jabatan mentereng, lalu mati..

kamu setuju?

Narasumber : Lendo Novo

Host : Dini Fitria

Executive produser : Dini Fitria

Director dan Editor : Ilham Nasbir Saini

Camera person : Irvan Setya Adjie, Irvan Fadila

Produser : Indah Widiastuti

Assistant Produser / Fotografer : Qania Umaira

Ngobrol Bareng Lendo Novo - Pendidikan kita sangat tidak merdeka

Merdeka adalah ketika kita diberi kebebasan untuk menentukan apa yang kita mau, Dan untuk mendapatkan kemerdekaan itu, salah satunya adalah dengan mendapatkan Pendidikan yang baik, layak, dan  mendukung..

Tapi, bagaimana jika Pendidikan itu sendiri yang tidak merdeka?

 

Narasumber : Lendo Novo

Host : Dini Fitria

Executive produser : Dini Fitria

Director dan Editor : Ilham Nasbir Saini

Camera person : Irvan Setya Adjie, Irvan Fadila

Produser : Indah Widiastuti

Assistant Produser / Fotografer : Qania Umaira

Sekolah Alam, Metode Pendidikan yang Fokus pada Kreativitas Anak

 

 

Ilustrasi sekolah alam. Foto: Shutterstock

Sekolah biasanya identik dengan bangunan yang berisi banyak ruang kelas. Pada bangunan tersebut, ada guru dan murid yang melakukan aktivitas belajar-mengajar. Namun seiring berjalannya waktu, konsep sekolah pun berkembang, misalnya saja dengan hadirnya sekolah alam.

Di Indonesia, sekolah alam sendiri baru diperkenalkan tahun 1998 oleh Lendo Novo, seorang aktivis lingkungan sekaligus social entrepreneur. Padahal di luar negeri, sekolah berbasis alam ini sudah ada sejak tahun 1950 dan digagas pertama kali di Denmark.

Dilansir Earth For Education, sekolah alam pertama di dunia digagas oleh seorang wanita bernama Ella Flatau dengan menciptakan 'Walking Kindergarten'. Taman kanak-kanak ini terinspirasi ketika ia sering mengajak anak-anaknya dan anak tetangganya untuk bermain ke hutan terdekat. Tanpa disangka, dalam beberapa tahun kemudian, para ibu pun membujuk anak-anaknya untuk pindah dari kota ke desa.

 

 

Ilustrasi sekolah alam Foto: Shutterstock

Barulah sekitar tahun 1970-1980an, model pendidikan ini diadopsi oleh beberapa sekolah di Denmark untuk mengembangkan keterampilan anak usia dini. Kemudian, pada tahun 1993, sekelompok perawat dan dosen dari Bridgewater College, Somerset, Inggris mengunjungi Denmark untuk melihat sistem pendidikan tersebut lalu mengembangkannya di Britania Raya.  

Sementara itu, Sekolah Alam di Indonesia yang digagas oleh Lendo pertama kali berjalan dengan delapan orang murid di jalan Damai, Ciganjur, Jakarta Selatan. Sekolah alam ini awalnya ditujukan untuk menjangkau anak-anak kurang mampu agar bisa mendapat pendidikan yang layak. Seiring waktu, pada 2004, Lendo mendirikan Schoof of Universe, dengan visi mendampingi setiap anak untuk menjadi "pemimpin" di muka bumi dan memberi "rahmat" bagi sekalian alam.

"Saya mendirikan sekolah alam ini bertujuan untuk melahirkan pemimpin di muka bumi. Kan manusia itu diciptakan pada dasarnya untuk menjadi pemimpin di muka bumi, jadi kurikulum yang kita buat itu turunan dari penciptaan manusia. Kita fokus terhadap pengembangan karakter anak, itu yang kita yakini. Karena negara yang besar sukses karena masyarakat yang berakhlak," ujar Lendo kepada kumparanMOM di acara Halo Organik, Central Park, Minggu (22/9).

 

 

Ilustrasi anak belajar di sekolah alam Foto: Shutterstock

Pendekatan yang digunakan pun dititik beratkan pada pembelajaran keterampilan hidup praktis yang luas. Adapun keterampilan yang dikembangkan selain akademik adalah kepemimpinan, akhlak, dan bisnis. Materi yang diberikan dimulai dari konsep dasar sekolah alam itu sendiri, yakni penerapan di lapangan seperti Belajar Bersama Alam (BBA), Belajar Bisnis Bersama (BBB), Learn from Maestro, Kreativitas, dan lain sebagainya.

"Kurikulum tersebut semuanya dilakukan di luar ruangan sambil bermain. Sehingga sekolah pun tak terasa berat bagi anak. Ada juga lho, anak didik yang mengaku tidak mau pulang dari sekolah, bahkan ada orang tua merasa bingung walaupun anak sakit dia tetap mau ke sekolah," ujarnya.

Sekolah alam jadi perpaduan lengkap antara aktivitas visual, kinestetik, dan auditori anak sehingga kreativitas siswa akan terasah dengan sangat baik. Anak pun bisa mengenal hewan, tumbuhan, lingkungan, dan langsung menerapkan ilmu yang diperolehnya saat itu juga, seperti kepemimpinan dan bisnis.

 

 

Pusat bisnis bioteknologi di School of Universe tempat dimana anak-anak terlibat langsung dalam usaha Bio-Cyclo Farming. (Foto: School of Universe website)

"Jadi anak tidak hanya tahu soal teori saja, tapi bisa mempraktikkannya di kehidupan sehari-hari," kata Lendo.

Soal standar pendidikan tak perlu khawatir, School of Universe yang digagasnya sudah sesuai dengan standar pendidikan di Indonesia, dengan semua guru minimal menyandang gelar Sarjana (S1). Dalam kurikulum pendidikan anak usia dini dan sekolah dasar, kurikulum yang dikembangkan mencakup:

Pengembangan akhlak, dengan metode 'teladan' seperti belajar mengaji dan membiasakan Salat Dhuha.

Pengembangan logika, dengan metode action learning 'belajar bersama alam' ini anak-anak akan diajarkan untuk belajar dari alam langsung.

Pengembangan sifat kepemimpinan, dengan metode 'outbound training' ini anak-anak akan diajarkan Dimensi Diri (Kemandirian), TKA-B, Dimensi Keluarga (Kalangan Terdekat), SD kelas 1-2; Dimensi Komunitas kecil (Kelas), pada SD kelas 3-4, dan Dimensi Komunitas Besar (Sekolah), pada kelas SD 5-6. 

Pengembangan mental bisnis, dengan metode magang dan 'belajar dari ahlinya' seperti anak diajarkan untuk membuat kerajinan tangan yang bisa dijual lagi. 

 

 

Pengembangan sifat kepemimpinan, dengan metode 'outbound training' dilakukan sekali setiap minggunya untuk setiap level (TK, SD dan SM). (Foto: School of Universe website)

Nah bagi Anda yang tertarik menyekolahkan anak di Sekolah Alam, sudah ada 57 jaringan yang tersebar di seluruh Indonesia. Namun untuk School of Universe sendiri berada di Jalan Raya Parung 314 KM 43, Parung, Bogor.

 

Sumber : Situs Berita Online Kumparan

MUNAS IV JSAN

Menuju 25 tahun Gerakan Sekolah Alam

Pada tahun 2019 ini, sudah 20 tahun sejak sekolah alam pertama didirikan oleh Lendo Novo di Ciganjur Jakarta Selatan. Seiring dengan makin diterimanya konsep pendidikan sekolahalam di Indonesia, inilah saatnya untuk menentukan peta sekolah alam untuk 20 tahun ke depan.

Empat tahun berlalu sejak Munas III di Bogor, berbagai kegiatan dan karya telah dilakukan bersama. Kini saatnya di Musyawarah Nasional IV menyegarkan kembali langkah JSAN dengan memilih pengurus baru JSAN yang akan menjadi pengurus periode 2019-2023.

Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) adalah jejaring bagi para guru dan pegiat sekolah alam se-nusantara, sebagai wadah berbagi semangat, inspirasi, pengetahuan dan gagasan. Sejak berdirinya Sekolah Alam Ciganjur di tahun 1998, konsep sekolah alam telah diadopsi di berbagai daerah, mulai Aceh hingga Papua. Pada tanggal 1-3 Juli 2011, bertepatan dengan acara Jambore Sekolah Alam Nusantara di Lembang, dibentuklah Jaringan Sekolah Alam Nusantara (JSAN) sebagai wadah sekolah alam se-nusantara. Saat ini, tidak kurang dari 120 sekolah alam bergabung dalam jaringan.

Pada kesempatan Musyawarah Nasional IV ini juga digelar acara Konferensi Siswa Sekolah Alam. Konferensi Siswa Sekolah Alam menampilkan serangkaian proyek penelitian dengan tema "Change Our Relationship with the Planet". Agenda ini mengundang siswa sekolah alam usia 14 - 19 tahun untuk mempresentasikan proyek penelitian mereka dalam rangkaian acara Munas JSAN IV. Dalam konferensi ini, beberapa siswa sekolah alam yang pernah mengikuti konferensi internasional yang dihelat CEI (Caretakers of the Environment International) akan turut hadir sebagai panelis.

Sebagai salah satu pilar kurikulum sekolahalam, entrepreneurship atau kewirausahaan adalah jiwa yang senantiasa ditumbuhkan dalam proses pendidikan setiap siswa. Tak heran, beberapa siswa SA dan para alumninya telah berwirausaha dalam usia muda. Forum Pebisnis Muda Sekolah Alam mengumpulkan para siswa dan alumni sekolah alam untuk memamerkan dan mempresentasikan bisnisnya di hadapan panelis dan para pengunjung festival.

Mengambil spirit Jogja sebagai kota pendidikan dan kota perjuangan, JSAN bertekad untuk menancapkan sekolah alam sebagai konsep pendidikan yang membawa negeri ini ke arah yang lebih baik. Acara Munas kali ini diadakan di area Benteng Vredeburg dan Taman Budaya Yogyakarta. Sebuah area yang juga dekat dengan KM 0 kota Yogyakarta. Sebagai penanda niat untuk memulai kembali pembangunan peradaban Indonesia dan dunia melalui pendidikan dengan konsep sekolah alam.

Pembicara dalam Munas ini adalah Lendo Novo, Konseptor Sekolahalam, Achmad Zaky CEO Bukalapak, Azzam Habibullah, Penulis Muda dan Nurul Khamdi Ketua JSAN.

 

http://munasjsan.weebly.com

Kisah inspiratif ayah bunda

Inspirasi bisa datang dari mana dan kapan saja. Salah satu cerita yang dikisahkan dari salah satu dan salah dua orang tua siswa School of Universe ini mudah-mudahan dapat menginspirasi kita semua. Izin kopas dari facebook bundanya Wahyu di SD 6 dan bundanya Kayne juga di SD 6. 

Kisah pertama dari bundanya Wahyu berjudul : "Membayar Perjalanan dengan Thai Tea"

Backpacker sudah masuk ke dalam kurikulum wajib yang harus diikuti oleh seluruh siswa kelas enam SD School of Universe Parung. Melalui program ini, anak-anak dilatih untuk bisa merancang perjalanan yang akan mereka jalani secara mandiri. Mulai dari menentukan destinasi, menyusun acara, memilih dan memesan moda transportasi yang digunakan sampai dengan konsumsi dan biaya sepenuhnya menjadi tanggung jawab anak.

Jauh sebelum matahari terbit, saat udara masih terasa menusuk tulang dan kabut pun masih setia menyelimuti aku harus bergegas menuju Lapangan Sempur di Bogor yang selalu ramai dengan warga yang bermaksud menghabiskan hari Minggu pagi mereka. Ada yang berolahraga atau hanya sekedar duduk dan bermain bersama anak-anak.

“Jualannya sudah siap Mas?” tanyaku pelan sambil berjalan dari parkiran.

“Sudah Bu.” Jawab Rohman singkat.

“Mas segera berkeliling lapangan sambil menawarkan thai tea kepada setiap orang yang ditemui dengan sopan nanti ibu tunggu di sini.”

Dengan muka yang terlihat cemas, Rohman mulai berjalan pelan sambil membawa kotak yang berisi beberapa botol thai tea. Ada rasa tak tega membiarkan dia menahan malu menjajakan barang dagangan, namun ini adalah sebuah pembelajaran bahwa tak ada hasil tanpa sebuah proses.

“Ibu tidak bisa begitu dong!” sebuah suara ketus sekita membuyarkan anganku.

“Maaf, maksudnya apa ya Pak?” tanyaku heran, saat seorang bapak tua yang duduk tak jauh dari tempatku berujar.

“Sebagai seorang ibu, masak tega menyuruh anaknya berjualan sedangkan dirinya sendiri malah asik duduk saja!” tanpa mengurangi intonasi suaranya si bapak masih terdengar berang.

“Ini adalah program sekolah Pak, jika bisa memilih lebih baik saya istirahat di rumah karena saya tidak pernah bermaksud untuk memperkerjakan anak.”

Entah karena malu atau tak enak hati telah memvonis salah, tanpa permisi bapak tua tersebut langsung pergi begitu saja. Mataku nanar, mencoba menemukan sosok kecil Rohman diantara kerumunan orang yang tampak berlalu lalang. Matahari yang mulai tampak garang, tak sedikitpun menyurutkan semangat dan tekad Rohman untuk menjual sebanyak mungkin botol thai tea yang dibawanya.

Kejadian itu ternyata sudah tiga tahun yang lalu, namun terasa masih sangat segar dalam ingatan. Rohman bisa melalui satu fase dalam hidupnya dan backpacker ke Palembang kala itu juga berlangsung lancar. 

******

Saat ini aku pun harus siap menerima kenyataan bahwa adik mulai bersiap dengan pengumpulan dana untuk backpacker ke Dieng. Waktu terasa berlalu begitu cepat, rasanya baru kemarin aku menimangnya namun ternyata saat ini dia telah tumbuh menjadi pribadi yang cukup mandiri.

“Bu, waktu untuk pengumpulan dana backpacker hanya ada tiga bulan. Aku nanti bisa tidak ya untuk mengumpulkan sesuai target?” gumam Wahyu pelan.

“Kenapa harus takut, bukankah rezeki itu Allah yang mengatur dan kita hanya perlu berusaha sungguh-sungguh.”

“Adik mau jualan thai tea setiap hari ke sekolah, tapi siapa dong yang bantu membuatkan thai tea karena ibu dinas luar kota?”

Ada raut sedih yang jelas tergambar dari wajah polos Wahyu, perasaan bersalah pun seketika menyergap relung hati kecilku.

“Tidak usah khawatir Dik, nanti ayah yang akan bantu siapkan keperluan jualan kamu, nah sekarang kita bersiap mengantar ibu ke bandara ya.”

“Siap Ayah.” Jawab Wahyu dengan penuh semangat.

Ada sebuah perasaan yang begitu sulit diungkapkan dengan kata-kata, ketika setiap pulang sekolah Wahyu dengan penuh semangat bercerita siapa saja yang telah membeli thai tea yang dia jual sehingga dagangan yang dibawa setiap harinya selalu habis terjual. Binar di matanya menceritakan banyak hal, tentang harapan dan impiannya.

“Bu, nanti pas sudah mau berangkat ke Dieng boleh tidak aku membeli jaket baru?” tanya Wahyu dengan penuh harap.

“Boleh, itu artinya kamu harus berjualan lebih giat sehingga ada uang lebih untuk membeli jaket.” Jawabku singkat.

“Kok begitu?” ujar Wahyu penuh tanya.

“Karena jaket kamu yang lama masih cukup bagus, jadi kalau mau membeli jaket baru harus dengan tabungan sendiri.” Ujarku tegas saat mencoba memberikan sebuah pemahaman bahwa kita harus membeli sesuatu lebih kepada kebutuhan bukan keinginan.

Suasana ruang baca mendadak sepi, tak tampak lagi sosok Wahyu yang selalu merajuk saat punya suatu keinginan. Entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini ketika tanpa disadari, dia terlihat mengangguk anggukkan kepala.

“Aku tidak jadi beli jaket Bu!” ujar Wahyu mantap.

“Kenapa memang Dik?” aku merasa takjub dengan jawaban yang tak pernah diduga sebelumnya.

“Karena jika uang backpacker masih tersisa, aku mau tabung untuk bisa pergi umroh dan mengunjungi Turki.” Jawab Wahyu pelan sambil berlalu untuk bersiap diri melaksanakan salat magrib berjamaah di musala komplek.

Tanpa terasa butiran bening menetes dari ujung mataku, anak yang masih duduk di bangku kelas enam SD itu telah tahu apa mimpi dan harapannya serta berusaha keras untuk mewujudkannya. Rasanya malu dengan diriku sendiri, saat seumuran dengannya, aku hanya mampu mengisi hari-hari dengan bermain.

Dia telah paham bagaimana menyusun skala prioritas dan mengerti konsekuensi saat bermimpi besar, maka harus rela berjuang lebih keras. Masya Allah, sungguh tiada daya dan upaya selain atas pertolongan-Nya, semoga Allah selalu menjaga dan membimbing setiap langkah anak-anakku dalam mentadzaburi setiap ciptaan-Nya.

_______________________________________

Berikut kisah dari bundanya Kayne, cukup singkat tapi tidak kalah inspiratif

setelah 5 tahun belajar direct sales, mulai kelas 6 ini kk Kayne belajar online sales

alhamdulillah belajar jadi agent AfraKids, jemput rizki Allah plus syiar Islam ke teman-teman semua, 

semoga berkah Allah untuk kita semua ya, aamiin..

dan selama kk Kayne sekolah, mama manager jadi adminnya yah

Insyaa Allah seluruh hasil penjualan menjadi SHM anak shalih kesayangan mama 

Ga boleh kan mengambil hak orang lain, walaupun hak seorang anak...

Karena Allah Maha Mengetahui apa yang tersirat didalam dada dan semua akan dipertanggung jawabkan kelak..

 

Demikian kisah inspiratif dari para bunda, semoga bermanfaat bagi kita semua. Ditunggu kisah-kisah lain dari ayah bunda sekalian yaa :)

Sumber : facebook 

Page 1 of 4