Joomla Files Webdesign Erfurt
Header Pic   Header Pic
Header Pic  Pfeil Header Pic
Header Pic
OVERVIEW
ADMISSION
INTERACTIVE
Login Form




SURVIVAL - Three Series of Rain coat agent PDF Print E-mail
Monday, 22 September 2008 01:10

Sebuah kisah yang ditulis dari pengalaman Mr. Amar, seorang fasilitator School of Universe selama kegiatan Basic survival untuk siswa-siswi sekolah menengah (high school) School of Universe di kawasan Gunung Cisalak. Selamat mengikuti ;)

Yess....! Aku berteriak girang.
Memasuki kawasan perbatasan Bogor-Sukabumi. Hawa sedikit menjadi sejuk. Kalau macetnya sih masih agak mendingan daripada Bogor. Aku sempat bertanya-tanya saat polisi mengalihkan kami ke jalur alternatif. But, asyik juga. Jalan berkelok,turun naik. Ku hadapkan wajah ke jendela mobil menatap hijaunya perbukitan. Andaikan aku punya rumah di sini...oh.....(ngayal neh). Telinga ku tertutup rapat akan gurauan Mr. Syafir akan nikmatnya sate kambing. Tak lepas mata merekam pemandangan yang diwariskan alam. Lima belas menit kemudian. Hirup pikuk pasar Cidahu cukup membuat sumpek di kepala.
Hmmm...berharap terbang ke bukit. Setengah mata ku tertutup melihat bangunan tak teratur dan berdiri seenaknya. Kami berhenti di mini market alfa mart. Tak ingin berlama-lama. Pilihan ku jatuh pada apel merah. Jauh lebih baik dari pada soft drink dan makanan instan yang dipilih teman-teman ku. Carry separuh baya yang kami tumpangi melaju terseok. Kali ini jalanan semakin menanjak. Terus..terus..
Horee.......aku berada di bukit lagi. Tak ingin melewatkan. Setiap bangunan yang berdiri tak luput dari amatan ku.

Wow! Rumah kayu...keren euy.
Andaikan aku punya rumah kayu seperti itu....(ngayal lage neh). Sepanjang perjalanan aku lebih memilih diam. Sejenak kami berhenti di puskesmas Cidahu. Tidak lama...dan tidak boleh lama..kata hati ku.
Mobil carry berhenti diparkiran gerbang Cangkuang. Aroma hutan damar mengetuk-ngetuk hidung. Hawa sengar membuat rasa lapar hilang. Aku tak sabaran melihat sekeliling. Subhanallah....Indah sekali. Aku masih meraba, kira-kira lokasi kami dimana. Hmmm...ke sana..jalan aspal mendaki....atau disini, disamping warung. Atau...di helly pad...Atau ke jurang bawah sana...Aku berkacak pinggang. Memutar pandangan ke sekeliling. Aku berharap ke sana.Tuh..tuh...ada gubuk di bawah jurang...ada sungai bebatuan...asyik men...Tanpa memperdulikan teman-teman ku yang sedang memesan mie rebus dan nasi goreng aku tancap gas menuruni bukit. Setengah perjalanan aku berhenti. Pemandangan keren euy...’
Sms singkat untuk teman ku yang besok akan menyusul. Sekedar ingin membagi kegembiraan yang aku rasakan. Setelah puas melihat-lihat aku kembali ke atas. Nasi goreng dan bandrek susu terasa sangat nikmat untuk orang-orang kelaparan seperti kami. Tak membuang waktu kami menuju ke lokasi yang benar dugaan ku. Jurang. Yoaa...siap.
Tertatih kami menuruni bukit. Jalanan setapak bersusun batu.Kaki ku semakin tertatih oleh ransel di punggung dan goni ditangan.
Wek...kalau gak sanggup malu-maluin...semangat...coy.....
Setelah sampai ke bawah...aku tidak memilih naik ke atas lagi. Meski dua galon air masih menanti. Mr. Ajat, Mr. Yanto, Mr. Rahmat orang paling kuharpkan naik lagi ke atas. Thank's bro...
Hehehe...aku menertawakan Ms. Septri dalam hati. Satu galon aja susahnya minta ampun apalagi sembilan galon. Tuh air sungai banyak.
Glek...glek....segarnya air pancuran masuk kelambung ku. Menghilangkan haus di tenggorokan.
Satu lagi hajat yang tidak bisa diabaikan. Sungai bebatuan jadi sasaran.
Ahhh…..plong rasanya. Jadi ingat masa kecil. Kalau mau yang satu itu pasti larinya ke sungai.
Aku dan Mr. Iman mendirikan tenda. Selesai satu tenda kami dirikan. Hujan menyapa ramah. Berkawan hujan, kami mendirikan tenda utama. Aku yang memegangi tiang bambu. Oleng kiri...oleng kanan...basah kuyup terpaan hujan. Akhirnya selesai juga. Bersamaan pula hujannya berhenti. Tak membuang waktu, kami segera mendirikan tenda berikutnya. Alhamdulillah, tak ada selisih pendapat. Apalagi sampai sidang pleno. Tenda harus dididiran dimana...barang ini diletakkan dimana. Tak ada ego. Semua mengalir apa adanya. Seirama dalam balutan alam yang semakin dingin. Mungkin karena kecapean. Alhamdulillah. Selesai tugas pertama kami mendirikan tenda. Aku duduk di matras memeluk lutut. Membiarkan dingin membelai bulu-bulu ditangan ku. Setelah sholat ashar. Aku, Mr. Iman, Mr.Syafir, Mr. Ajat, dan Mr. Mas'ud menuju ke atas...no..ono...leher ku berputar menilihat bukit yang berdiri angkuh di samping kanan ku. Jujur. Nafas ku ngos..ngosan tapi tidak sampai mengeluarkan suara seperti Mr. Syafir dan Mr. Iman. Alhamdulillah ya...Allah, Engkau masih mempercayai tubuh ini untuk memiliki semangat alam. Amin. Tanah lembab, dedaunan basah membuat alam seakan tidak ramah. Tapi gak juga ya....mungkin alam menggembleng kami lebih awal sebelum yang lainnya. Gak lucu kan kalau tim advand yang harus di bawa ke rumah sakit karena demam.
Tembak...Keker...Senter....(eittt...bukan pistol atau senapan laras panjang). Tapi kompas.
Itulah yang dilakukan oleh mereka berempat. Aku cukup senang meski hanya memegang gulungan tali rapia dan golok. Satu pohon damar di kalungi tali rapia. Penetuan pos ke dua berlanjut. Lebih sulit. Mr. Iman lama mengeker ke arah Mr.Ajat yang hanya kelihatan cahaya senternya saja. Pohon damar ke dua di kalungi tali rapia. Bidikan pos ke tiga. Wek...lama sekali...sampai-sampai Mr. Iman dan Mr. Syafir teriak-teriak.
“Berapa....???!!!“
“Dimana....???!!!”
“Geser....???!!!”
“Senternya...!!!””
Cahaya senter tak terlihat oleh Mr. Iman, goyangan daun pisang jadi andalan. Aku tidak mengalungi tali di pos tiga. Lalu Mr. Mas'ud menyuruh ku membuat garis batas. Mr. Syafir mengganti posisi Mr. Ajat. Mulai kami merambah hutan. Aku taat sama perintah. Batas yang ku buat di daerah yang dekat dengan jurang saja.
" Pak...di sana gak di kasih batas?" Tanya ku sama Mr. Mas'ud.
"Gak Usah lah. Toh anak-anak juga tau dan gak bakalan ke sana. Lagian mereka ada kompas sebagai penunjuk arah". Jelas Mr. Ma'ud panjang lebar. Namun memperlihatkan wajah tegang.
'Oke boss. Siap laksanakan perintah'
Menjelang magrib kami selesai memberi tanda ke delapan pos. Garis batasnya selesai juga. Jujur, walau menyisakan tanda tanya di hati. Tapi aku tetap ikut perintah.
'Kenapa gak usah dipasang garis batas aja sekalian '
‘Kan survival' Protes ku dalam hati.
Ah! Sudahlah. Katanya taat perintah....tapi kok....
Azan magrib terdengar saat kami tiba kembali di pos pertama. Teman-teman sudah menunggu kami di base camp. Segelas kopi susu hangat menanti. Dua pacet nempel di kaki kanan ku. Mr. Ajat ikut membuka sepatu bot nya. Yak!...satu pacet di sela jari kaki cukup membuatnya geli.
"Ini pertama kali saya di gigit pacet". Kata Mr. Ajat.
Kabut turun perlahan ke lembah. Hari berganti malam. Tidak ada cerita mandi. Bau badan kalah oleh bekunya saraf di hidung. Kami menjamak qoshar shalat Magrib di Isya. Selesai sholat. Kami menyantap nasi lembek. Hehehe...maklum aja coy...Tapi terasa enak juga. Heran. Mereka sangat bersemangat menyantap mie instan. Ah! Sudahlah...emang gue pikirin..hahahaha....
Canda Mr. Iman tidak bisa mengusir rasa capek dan ngantuk. Aku memilih tidur. Badan ku cuapeeeekkkkk banget....
Aku memilih giliran ronda jam 4 pagi pasangan Mr. Ade. Malam semakin larut. satu persatu percakapan mereka yang ronda hinggap dikepala ku. Tidur ayam pun gak bisa. Malam tambah gelap. Segelap topik pembicaraan mereka. Mungkin mereka gak sadar kalau sedari tadi aku pe-nguping setia pembicaraan mereka. Hehehehe.....
'Aku pernah ini....aku pernah itu...aku suka ini...aku suka itu...'
'Menurut ku begini...menurut ku begitu' (he..he..lagi)
‘Aku pernah cobain ini…tapi sekali aja. Beneran….’
Huaaaa…..
Untung rasa capek enyah juga. Kalau dipikir-pikir aku seperti makhuk asing disini. Mereka pada nge-sundanesse. Cape deh....
Grookkk..grookkkk.....grookkkk.....duh ilee.......
Irama kelelahan anak manusia mewarnai tenda ku. Ngorok Mr. Syafir membuat ku semakin terjaga.
I'm calling my father aja ah....sorry bukan homesick. Hanya pengen tau kabar. Puas rasanya bisa ngomong bahasa daerah ku. Aceh....hehe.....hehe....balas dendam.
Sinyal HP drop dengan cepat.
Syukur....syukur...sementara aku terbebas oleh sms syerem istri ku.Hiks.
Aku beranjak keluar tenda jam 3.30. Setengah jam lagi aku akan piket. Menyadari kehadiran ku. Mr. Iman dan Mr. Ajat sejenak menghentikan percakapan syeremnya. Tujuan ku hanya satu. Kopi hangaaaattttt...
Aku membangunkan Mr. Ade. Klop deh...suasana malam menjelang pagi makin hening. Tak ada pembicaraan yang berarti antara kami. Mr. ade lebih banyak diam. Masak air. Aku hanya melongo...and kedinginan. Subuh pun tiba.
Pemandangan buramnya pagi semakin indah oleh kabut di atas bukit. Setelah sholat shubuh. Aku, Mr. Iman dan Mr. Ade tidak melewatkan moment bagus ini.
Klik...Klik....Mr. Iman jadi pengarah gaya....
Langit perlahan berganti warna terang. Tanda matahari akan terbit. Aku masih menerka arah mana matahari akan terbit. Udara pagi nan segar......
Maaf...tetap belum ada cerita mandi.
Menu favorit sarapan tetap mie instan rebus. Tidak bagi ku. Aku lebih memilih sebelah apel merah dan segelas kopi susu. Cukup aku rasa. Tergantung keyakinan....
Tugas berikutnya menanti.
Ditemani Mr. Syafir, Mr. Ade dan Mr. Yanto, kami membuat pos pengamatan untuk guru sebanyak delapan pos. Sementara Mr. Iman dan Mr. Ajat mecari jalan untuk hiking anak-anak nantinya.
Jam 05;30. Satu persatu pos kami tentukan. Kami memilih lokasi dekat jurang. Selain itu kami harus membuat garis batas mengelilingi pos-pos. Nah! Lho!....(jangan protes...)
Hujan turun tidak begitu deras. Perjalanan terhambat oleh pekatnya kabut pagi. Jarak pandang kira-kira hanya 100 meter bahkan kurang. Aku dan Mr. Ade bertugas membuat garis batas. Mr. Syafir dan Mr. Yanto menentukan pos. Kadang bergantian. Pekerjaan kami berdua selesai. Aku berada di atas pos paling ujung. Kabut masih tebal. Mr. Ade sibuk dengan kamera nya. Pandangan ku menyapu sekeliling.
Aku berteriak mengganggil Mr. Syafir.
"Pak Syaferrrrr......"
"Alowww......" Tak kedengarn suaranya. Mata ku menyapu sekeliling. Aku membanyangkan seperti di hutan Amazon. Kayak di film-film.
"Pak...sini saya foto" Kata ku sama Mr. Ade.
"Disini keren...ada kabut" Aku menyuruh Mr.Ade berdiri di dekat pohon pakis tinggi. Hmmm...mewakili gambaran hutan Amazon. Aku tak mau ketinggalan. Tunjuk tangan...pegang tongkat...dibawah pohon besar. Semua berlatar kabut. Pemandangan yang jarang kutemukan. Sayang dilewatkan begitu saja.
Thank's Mr. Ade....You're really know what I mean...he....he...
"Pak. Kontrak eklusif" Goda ku sama Mr. Ade.
Dia hanya cengengesan. Lebih kurang tiga puluh menit kami menunggu Mr. Syafir dan Mr. Yanto. Tugas kami berempat belum usai. Kami harus mencari jalan alternatif mengelilingi bukit. Asyik...jalan..jalan nih...
Aku dapat pegangan baru di tangan kiri. Akar kayu melilit..kayak ular mungkin...atau kayak...paha orang...tergantung siapa yang melihat. Mr. Syafir bilang kayak ayam.Hahahaha..ketauan lapar.
Nyungsep kiri...nyungsep kanan...merunduk diantara semak-semak liar dan rumpun bambu. Aku membayangkan kalau tiba-tiba ular muncul di atas dan mematuk kepala ku. Tamat riwayat ku...Aku berada paling depan. Beberapa kali aku jadi penentu arah. Salah melulu.Tetap saja jalannya menuju ke jurang. Mana apes lagi. Jas hujan ku bagian bawahnya sobek. Hampir putus malah. Sekali...dua kali...tiga kali...jalan setapak yang aku pilih salah.
"Penunjuk jalan yang sesat" Goda Mr. Yanto.
Kali ini aku membayangkan harimau mengahadang di rumpun bambu. Dijamin gak bakan bisa lari. Kami jalan merunduk.Menghindar semak-semak di atas kepala. Sekarang aku hanya mengikuti mereka dari belakang. Walah...Tetap saja kami belum beruntung. Kami nyasar ke alur air tepi jurang. Balik lagi. Kali ini aku tidak mau menyerah. Aku harus mendaki tebing itu.
"Coy..kita gak bawa tandu...." Mr. Syafir mematahkan semangat ku.
Iya...iya...iya.
Kami kembali balik kebelakang. Masih mencari jalan. Atap villa perhutani terlihat di seberang jurang. Diantara pepohonan. Aku yakin jalan raya sudah dekat. Tangan ku masih perih oleh sabetan golok di jari telunjuk. (Nih...masih ada bekasnya). Akhir pencarian. Kami berada di tebing tingginya kira-kira 10 meter. Diatas terlihat pagar kawat. Tanpa pikir panjang aku langsung memanjat tebing tanpa rintangan berarti. Horee...aku berada di atas. Pas dekat dengan pagar kawat. Aku duduk berselonjor.
"Pak....bisa gak!?" Aku melihat teman-teman ku di bawah tebih.Mr. Syafir terusik oleh tantangan ku. Aku ulur tongkat ke arahnya.
"Gue ditantang nih" Kata Mr. Syafir.Hehehehe....
Dia merangkak semangat dengan bantuan pisau ditangannya.
Hap....
Hap...
Hap...
Sedikit lagi sampai di atas. Tempat aku duduk.
Hap...Pisau ditangannya tidak menancap di tanah tapi batu.
Crass...Sayatan ditangannya mengeluarkan banyak darah. Dia menguyah daun (apa nama...tanya Mr. Syafir). Lalu ditempel ke lukanya. Kami melanjutkan perjalananan. Kali ini menyusuri pagar kawat besi.
Aku penasaran bagunan apa yang dipagari itu.
"Pak...nekad yok..."
Aku bersiap memanjat pagar.
"Ayo...siap takut"Mr. Syafir setuju ajakan ku. But Mr. Ade lebih memilih menyusuri jalanan setapak. Kami mengalah.
Rasa capek hilang sejenak oleh suara air terjun. Aku langsung melompat. Maaf.....masih belum ada cerita mandi.
Aku bersihkan tanah yang menempel tebal di sepatu ku. Seperti ban radial.....
Kami melanjutkan perjalanan. Badan kami rebah dipinggiran jalan aspal kecil. Coklat sebatang dibagi berempat. Mr. Ade melihat ketinggian tempat kami berada. 2900 meter dari permukaan laut katanya. Waaa..tingginya...Kalau melompat kebawah pasti jadi kayak kerupuk digilas ban mobil.
Penjalanan kami lebih santai menuruni jalan beraspal. Kami kembali berhenti melihat air terjun.
'Dilarang memanjat. Menuju Kawah Ratu'
Aku membaca pamplet di pinggir sungai bebatuan.
Berpaling ke kiri. Bebatuan besar dialiri anak sungai dan air terjun.
Klik...Klik..Klik...Aku Mr. Syafir dan Mr.Ade tak membiarkan moment ini lewat begitu saja. Mr. Yanto sibuk memeriksa pacet di kakinya. Pakai celana pendek sih.
Perjalanan kembali dilanjutkan. Sesekali canda tawa keluar dari mulut kami berempat.
Kembali terngiang gurauan Mr. Iman.
"Mas Yanto.....!!!" Mr. Iman meniru suara Mpok Hindun.Itu lho. Ibu-ibu genit di serial Bajaj Bajuri. Aku sempat terbahak-bahak melihat tingkah kedua. Gaya Mr. Iman dan wajah innocent Mr. Yanto.Terlalu...
Sepatuku sudah sangat tidak nyaman dipakai. Aku buka. Weeee....dua ekor pacet nempel dianatar bulu-bulu kaki ku. Darah segar keluar..biar aja lah. Rezeki dia kali. Lain apa juga yang bisa aku katakan. Hiks.
Kontan saja yang lain memeriksa. Tiba di suatu areal camping. Aku lupa blok berapa..
Hmmmm...Mahoni..ya Blok Mahoni. Aku berlari ke arah jurang. Penasaran ingin melihat ke bawah. Spontan langkah ku terhenti. Bulu kuduk ku berdiri. Bukan karena dalam jurang atau melihat hantu. Tapi anjing penjaga mengejar ku. Melihat aku tidak bergerak. Anjing itu berhenti menegejar. Meski agak jauh.Dia tetap siap menggertak ku dengan gong-gongannya. Aku berbalik arah. Berjalan pelan ke arah teman-teman yang sudah jauh meninggalkan ku. Berharap si Anjing tak mengikuti ku lagi.
Kembali menuruni jalan beraspal. Badan kami tidak bisa berdiri tegak. Capek juga harus berjalan badan miring ke belakang. Kami berhenti di sebuah warung. Ada police line. Warung tempat kejadian pemerkosaan.
‘Sssttt…itu lho..yang perempuannya dilempar ke jurang’.
Tak berhasil menggoda lama mata kami. Perjalanan dilanjutkan.
Akhirnya kami tiba di gerbang. Anak-anak dan teman-teman ku yang lain tiba juga.
Aku menghitung mundur.
Wah! gak kerasa. Perjalanan kami 6 jam lho.
Berbagai reaksi lucu anak-anak melihat darah di kaki ku.
Mungkin ada yang mengira aku luka kena duri atau apalah.
Aneh! Ada anak yang tidak tau pacet dan lintah itu seperti apa.
Kak...kak....kak....
Aku sangat yakin aroma geli dan takut mulai hinggap di benak mereka....
Ms. Murni...Ms. Ina...Ms. Neneng...Ms Nani...Rapi amat. Mau kondangan ya...?!
Aku turun ke bawah. Tanpa membawa apapun. Salah strategi. Maksud hati ingin makan nasi. Malah capek yang aku dapat. Untuk kesekian kalinya aku naik ke atas. Memikul gulungan matras di pundak.
Wek.....mau kemane om...
Melihat tas bawaan anak-anak aku tertawa geli. Kayak mau naik pesawat aja. Malah ada yang nekad membiarkan tasnya terguling menuruni jalan setapak. Ini lagi teman-teman ku yang laki-laki. Mau piknik kali. Hehehe.....
Ayo siap-siap turun ke bawah (ya iyalah...masak turun ke atas).


ADA APA DENGAN SERIUS

"Tak ada capek nya Pak Amar ini" Itu yang keluar dari mulut Mr. Rahmat.
"Belum tentu saya bisa ke tempat ini lagi. Rugi kalau tidak dimanfaatkan untuk jalan-jalan" Aku membereskan tali sepatu. Bersiap-siap mengikuti hiking. Masih ditemani golok pusaka pemberian (pinjaman) Ms. Neneng. Aku berada di barisan paling belakang bersama Mr. Syafir. Di depan Dimas dan Mr. Bintang berjalan pelan. Nafasnya tersenggal-senggal. Jalan kami jadi semakin pelan. Beberapa kali kami berhenti membiarkan Dimas bernafas. Mr. Syafir sibuk mencari daun yang bisa untuk dimakan. Aku ikut mencicipinya. Hmmm...rasa mint. Semua daun yang dianggap bisa dimakan masuk ke saku celana Mr. Syafir. Kami tiba di sawah. Pandangan berhenti sejenak melihat Pak Tani yang lagi mencangkul.
"Permisi Pak!" Sapa ku ramah.
"Nuhun Pak...Aya...teh anak-anak kaliwat" Tak ku ingat apa yang ditanyakan Mr. Syafir kepada si Bapak dalam Bahasa Sunda.
Perjalanan lebih mirip menyusuri kawasan wisata. Sangat tidak menyenangkan. Hanya bongkahan batu besar yang membuat aku penasaran.
Malam hari. Suasana tak lagi hening. Suara riuh anak-anak yang masih kerepotan tendanya belum beres. Tawa canda teman-teman ku, ikut merusak heningnya malam. Menunggu meeting pertama.Mr. Cahya mengawali pembicaraan seputar acara yang akan di adakan besok. Aku menyimak tak bersemangat. Mr. Sule menanyakan medan yang akan dihadapi besok. Aku jelas kan apa adanya.
Wek...dia mau izin pulang besok....Ponco..gak ada. Makanan gak ada.
"Pak.Tenang aja. Nasib kita sama. Jas hujan saya sobek semua. Bagian bawah berubah jadi rok" Kata ku menyakinkan dia.
Kelihatannya dia agak tenang.Tapi gak tahu dalam hatinya. Meeting berlanjut. Berhasil mengikis habis semangat ku. Hanya sedikit penasaran yang tersisa. Aku sangat berharap cepat selesai, dan tidur. Awalnya aku sempat kesal (bukan kecewa). Bukan lantaran ide ku tidak diterima. Tapi mbok ya.....realistis donk. Ini lah aku. Aku sangat bersyukur masih punya rasa tidak nyaman oleh ide-ide yang menurutku ya...aneh mungkin...atau penakut...tanggung-tanggung...Suara ku tenggelam. Aku berharap banyak sama Mr. Syafir, Mr. Iman dan Mr. Mas'ud. Tapi...ya....Apa aku harus teriak-teriak. Aku marah, melihat Mr. Mas'ud hanya menopang tangan kirinya ke mulut. Mr. Syafir jangan nunduk aja donk. Aku bersender di dinding warung. Mr. Rinal dan Mr. Asmuni bersemangat menanyakan ini itu. Tapi, tetap tidak menggeser kesal di otak ku.
Selesai meeting. Hilang basa-basi ku. Tenda yang sudah berpindah tempat di seberang sungai jadi incaran. Ku rebahkan tubuh lelah ku di dalam tenda. Mr. Syafir mengikuti jejak ku. Ternyata dia merasakan hal yang sama. Kesal. Mengalir cerita tepatnya sedikit omelan tentang rasa tidak lapang dada yang dirasakan. Tapi gak berlanjut lama. Cerita berlanjut dengan masalah keluarga.
"Sifat antum sama kayak adik ane" Itu yang keluar dari mulut Mr. Syafir.
Jam menunjukkan pukul 12 malam. Sedikit mengenang rasa kesal di hati. Akhirnya aku tertidur. Maaf...baru sore hari menjelang magrib aku bisa mandi. Mimpi dulu ah.....
Subuh. Tak ada yang membangunkan aku untuk sholat. Aku terjaga oleh suara kresek-kresek kantong plastik. Mr. Ajat mencari sikat giginya. Azan sudah dari tadi kata Mr. Ajat. Aku berjalan setengah berlari di menuju jama'ah yang bersiap untuk sholat shubuh. Aku terlalu banyak berharap. Aku tak kebagian shaff sholat. Ada satu lagi tempat kosong dan kubiarkan diisi oleh salah seorang orangtua murid (Mr. Syarif namanya). Aku berdiri sendiri di tanah. Apes...apes...Berharap sholat shah meski was-was oleh tanah yang ku duduki.
Hmmm....meeting lagi. Tak kubiarkan kesal di otak ku berlanjut. Balutan jaket merah, cukup mengahangatkan tubuh ku. Aku mendengarkan dengan tenang pembicaraan Mr. Cahya. Kuurungkan niat untuk protes hasil meeting semalam. Aku berharap ini jadi didikan untuk aku bisa lebih berjiwa besar. Aku ditugaskan membawa rombongan teman-teman untuk melihat pos dan garis pembatas. Siap...bos...
Sebenarnya kalau ditempuh jalan setapak bisa. Tapi dasar aku....kalau belum melihat orang bisa merasakan seperti yang aku rasakan belum puas rasanya. Ha..ha...ha..ha...
Aku jadi pawang penunjuk jalan. Setengah perjalanan ada saja lelucon yang di buat. Salah satunya Mr. Hendi.
"Mana Foto..."
Klik.....semua mengeluarkan gaya andalan yang di miliki.
'"Pak Amar gak Ikut ?" Tanya Mr. Sule.
"Gak! Saya sudah kontrak Pak Ade.Eklusif" Gak tau dia ngerti atau gak.
Perjalanan tiba di pos terakhir. Dan kami baru menyisir satu sisi saja. Sisi kiri. Masih harus dua kali lagi menyisir rute yang sama. "Biar hafal" Kilah ku.
Ada rasa senang saat melihat semua teman-teman keringatan.Itulah aku. Mungkin dengan begitu logika akan terbangun.
Saat menuruni jalan setapak yang tak berarti. Mr. Sule mengatakan bahwa rute yang di buat lebih parah dari mukhayam yang penah dia ikuti. Beneran..? Saya pikir malah lebih parah dari ini.
Jam 9 pagi. Molor 1,5 jam dari jadwal semula. Satu persatu kelompok anak-anak diberangkatkan. Aku kebagian tim pemantau paling akhir. Ya...bisa setengah hari istirahat. Aku tidak tau banyak yang terjadi di atas. Hanya mendengar saja tentang beberapa kelompok yang susah mendapatkan posnya. Keadaan yang tidak kuinginkan. Statis setengah hari.
Maaf...untuk kedua kalinya aku mandi. Aku melihat ada kelompok yang kembali ke bawah. Push up...skok jump. Di bentak. Tapi tak membuat aku kasihan.
Teringat beberapa tahun silam. Aku dipercayakan untuk mengikuti latihan penggemblengan oleh salah satu organisasi. Pembina ku anak-anak Mapala. Mereka tak bisa mengalahkan tawa cekikan ku. Geli melihat tingkah teman sekelompok ku yang baris-berbarisnya awut-awutan. Setiap kali di tes baris-berbaris, setiap itu pula aku kena hukuman. Bukan karena aku yang salah. Tapi tertawa. Pembina seperti mendapat bidikan empuk. Meski malam hari, tak boleh tersenyum dan tertawa. Tetap saja senter mengarah ke wajah ku. Ketauan cengengesannya. Yang paling sadis aku harus merangkak di rumput. Mereka belum puas kalau belum melihat baju ku belepotan. Tapi dasar aku.Gak kapok juga.
***
Waktu ku habis oleh minum kopi. Makan snack. Bercanda. Tanpa aktivitas yang berarti. Mungkin inilah saatnya aku pulihkan tenaga.
Jam di HP menunjukkan pukul 2.30 siang.
Tapi lebih mirip magrib oleh pekatnya awan. Mr. Cahya membuat meeting dadakan. Topiknya sangat tidak efesien menurut ku. Aku berharap kali ini dia lebih kuat oleh pendapatnya sendiri. Strategi dirubah. Kelompok terakhir yang salah satu kelompoknya aku, tidak ikut memantau anak-anak. Tapi formasi dirubah menjadi kelompok malam hari. Pos untuk pemantau pun berubah. Aku kembali berontak.
"Pak..kalau sekarang kami tidak ikut memantau. Tugas kami apa?"
"Kalau harus ke atas sekarang. Bagaimana dengan lain yang belum turun?"
Mr. Cahya goyah oleh pertanyaan ku. Jujur. Aku menertawakan keadaan ini dalam hati. Kembali aku berada di hutan damar.
Aku diikuti Mr. Pendi, Mr. Sule dan Mr. Darwin. Setibanya di pos satu, kami berpapasan dengan Ms. Murni dan Ms. Ina. Aku menyuruh Mr. Darwin dan Mr. Sule menyusuri sisi kanan. Sementara Mr. Pendi ikut dengan ku. Ms. Murni dan Ms. Ina ikut numpang. Sifat usil ku kembali muncul. Sengaja aku pilih rute yang banyak semak dan agak sedikit medaki. Saat mencapai pos tiga jalanan menanjak. Aku menjulurkan kaki ku ke arah Ms. Murni dan Ms. Ina sebagai pegangan. Bukan tangan. Suer, baru kali ini aku melakukan hal seperti itu. Untung bulu-bulu di kaki ku tidak copot. Di pos tiga . Khalid dan teman-teman lagi makan biskuit. melingkar.
'Mana bivaknya?'
Ms. Murni memegang kamera sony dintangannya. Mengambil moment yang dianggapnya bagus di setiap pos. Aku tiba di pos delapan. Aku mengambil posisi diantara pos 7 dan 8. Agak menurun dan mendekati jurang. Aku tinggalkan Mr. Pendi di tempat yang telah aku tunjuk. Ku titip Ms. Murni dan Ms. Ina dan Mr. Sule pada alam. Minimal mereka tau sendiri jalan pulangnya. Gerimis mulai turun. Aku bergegas kembali ke tempat Mr. pendi. Sigap kami mendirikan bivak.
Siiip...selesai. Tak berapa lama hujan deras mengguyur hutan damar. Aku tinggal dia sendiri mengambil tas ransel ku di base cam. Jujur aku tidak tahu tujuan memantau pada siang hari. Hanya ikut naluri saja. Terlebih rasa bete tidak melakukan apa-apa di base camp. Aku kembali berpapasan dengan Ms. Ina dan Ms. Murni. Ms. Murni membisikkan sesuatu kepada ku.
"Aku barusan bantu mereka buat bivak. Tapi aku cuma kasih tongkat" Itu katanya. Tangannya menunjuk ke arah ke arah kelompok Nadhira.
Wek...curang.....Sama kayak Mr. Hendi. Gak tegaan.
Di bawah beberapa teman ku bersiap-siap dengan ranselnya menuju ke posnya masing-masing di atas. Aku masih menghangatkan tubuh dengan secangkir kopi susu. Satu persatu ku perhatikan orang-orang di base camp. Mr. Cahya, Mr. Hendi, Ms. Septri, Ms. Murni dan Ms. Neneng yang kelihatan tak bergairah.
'Masih sakit gigi Bu ?'
Aku coba selami pikiran mereka satu persatu yang mustahil dilakukan.
Tawa dan canda mereka hanya menyisakan senyum datar di bibir ku.
"Pak! Jalur komunikasinya bagaimana?" Tanya ku sama Mr. Cahya.
Penjelasan Mr. Cahya tak membuat ku puas. Aku menangkap kebingungan dalam penjalasannya. Rasa tak puas menari-nari di otak ku.
"Prittttt..pritttttt....pritttttt" Terdengar bunyi peluit dari atas.
"P3K.....Semuanya naik ke atas" Kembali terdengar teriakan.
Aku bergegas melihat ke arah bukit. Tak terlihat siapa-siapa. Aku bergegas lari ke atas tanpa menggunakan alas kaki. Setengah perjalanan nafas ku tersenggal. Ku lihat Mr. Pendi tergeletak lemas di tanah. Menahan sesak di dada. Semula aku mengira dia yang harus di tolong. Nyatanya tidak.
"Arief pingsang..." Katanya singkat. Aku kembali berlari ke atas. Kali in separuh tenaga. Jauh dibelakang ku badan Mr. Hendi setengah merunduk. Kedua tangannya di pinggang. Nafasnya ngos-ngosan. Antara sadar dan tidak aku berhenti, begitu juga dia. Mata ku berkunang-kunang. Aku sangat yakin kalau kulanjutkan sepuluh meter aja berlari lagi. Aku bakal pingsan. Aku memilih diam di bawah pohon. Membiarakan yang lainnya lewat. Tak berniat ingin tahu. Aku kembali turun ke bawah. Mempersiapkan tas ransel yang akan di bawa ke pos nanti malam.


Mozaik Jamur Tanah

Menjelang magrib aku, Mr. Sule dan Mr. Darwin naik ke atas bukit. Kabut mulai turun. Aku memakai kaos lengan pendek dan training basah. Senter ditangan. Mr. Darwin tak henti-hentinya menanyakan pos 3 itu dimana. Kali ini aku faham akan kekhawatiran teman-teman ku. Tak tega juga mereka mencari sendiri. Apalagi hari mulai gelap. Menebus pekatnya kabut. Kami bertiga terseok-seok dengan ransel di dipunggung. Aku menunjukk sekenanya tempat yang dijadikan pos 3. Lumayan lah. Daripada dipinggir jurang.
Tinggal aku sendiri. Aku melihat sekeliling. Tak ada manusia. Hanya pohon-pohon damar berdiri angker di antara kabut tebal. Aku berjalan seorang diri perlahan. Lalu aku berbapasan dengan Mr. Syafir.
"Aku puas.Tangan ku bisa mukul" Itu yang terucap dari mulutnya.
"Maksudnya ?" Tanya ku penasaran.
Ternyata dia habis memberi pelajaran sama salah seorang anak. Bandel sih.
Dia berlalu. Kulanjutkan langkah kaki ku.Aku sendiri bingung di mana pos ku tadi. Abisnya kabut tebal. Kalau di senter ketauan sama anak-anak. Aku tutupi sebagian kepala dan ransel ku dengan plastik pemberian Ms. Ina. Thanks Ms...Aku bersembunyi di balik pohon damar saat mendengar suar anak-anak. Kuping ku tajam mendengar suara siapa. Ya...benar ternyata suara anak-anak kelompok 8. Salah soerang menuju ke arah ku.Menuruni jalan setapak. Mata ku tidak jelas menangkap bayangan siapa. Tepat berada di depan ku. Aku gerak-gerakkan plastik yang menuti tubuh ku. Si Anak yang ternyata Dio kaget luar biasa.
"Hmmmm...." Cuma itu yang keluar dari mulut ku. Tinggal aku yang masih kebingungan. Mr. Pendi where are you..? Hiks.
Setelah lama menerka. Akhirnya aku jalan saja ke arah kiri.
"Sttt..stttt.." Itu modal ku memanggil Mr. Pendi. Tak lama terdengar jawaban
"Sttt....". Baru aku berani menyenter ke arah suaranya. Mr. Pendi I'm coming. Senang rasanya. Segera aku ambil plastik 2 meter di ransel ku. Jadi pelindung ponco. Jadilha bivak kami, paling nyaman (maybe...). Kabut semakin pekat . Mr.Pendi masih sempat menyalakan kompor gas untuk masak air.
"Minum kopi.Biar hangat" Itu katanya. Tapi tetap tak menggoyahkan iman ku. Aku tetap kekeuh dengan pendiririan ku tidak minum air. Bukan apa-apa. Gimana ya...gak nyaman banget buang air kecil di hutan. Kalau nggak kepepet mending tahan aja. Itu prinsip tekad ku. Apalagi dingin mengigil begini. Mana tahan. Aku menyenter dekat kearah wajah ku. Kabut bergerak miring ke arah barat. Kearah lembah. Mr. Pendi tak memakai baju. Hanya berselimut sarung. Tahan juga dia. Sesaat aku terpana melihat pemandangan sekeliling bivak. Mozaik jamur tanah. Aku belum pernah melihat sebelumnya. Saat aku senter hanya semak-semak terlihat. Aku larut oleh hiburan alam. Kunang-kunang ikut menemani. Indah sekali.
"Kumpulin Pak. Masukin ke plastik. Dijadiin lampu" Mr. Pendi menyuruh ku. Sementara dia berbaring kedinginan. Sayang rasanya merusak keindahannya. Imajinasji ku bermain. Aku seolah-olah seperti raksasa yang berdiri di tengah gemerlap lampu kota. Hehehe....Lelah melihat terangnya jamur tanah. Aku berbarang. Tak tahan juga, rasa dingin semakin menusuk. Semua persedian makanan aku keluarkan semua. Sekedar mengusir dingin. Ada coklat, madurasa, tanggo, roti sabu bal, susu 6 sachet. Hehehe....
Malam semakin pekat. Aku buta akan waktu. Baik aku atau Mr. Pendi sama-sama tak memakai arloji. Bahkah HP pun tidak ku bawa. ku sholat isya sambil duduk di bivak, setelah tayamum di atap bivak. Gak tau jam berapa. Arahnyapun menurut fatwa hati.
Setelah sholat aku agak tenang. Aku rebahkan badan di samping Mr. Pendi.
"Pak...sekarang apa yang terpikirkan" Iseng aku bertanya.
"Aku lagi mikir anak-anak. Kedinginan....basah...." Ah! Dia menhayati amat.
Kami kembali kami larut dengan pembicaraan masalah laki-laki. (Sstttt...rahasia....)
Ternyata aku sebaya sama dia. Tahun kelahirannyapun sama hanya beda bulan. Aku lebih tua beberapa bulan.
Asyik juga. Dia menceritakan tentang orang-orang yang dikenalnya. Bang Lendo and nyonya, Mr. Hendi dan nyonya, Ms. Iman. Tepatnya kilas balik tentang sejarah awal perkenalan dia dengan orang-orang yang menjadi teman ku sekarang. Hmmm....aku jadi sedikit lebih kenal sisi lain teman-teman ku (tenang...ceritanya yang baik-baik aja).
"Gimana mereka yang camping ya...?"
"Pasti syerem jadinya" kata ku sama Mr. Pendi.
Maksud ku muda-mudi yang kemping di hutan.
Menjelang tengah malam kami ronda. Hanyan sekali saja. Selebihnya tidur. Anak-anak di kelompok 8 betah ngobrol semalaman. Sementara anak-anak dikelompok tujuh, tidur seperti orang di bius. Pelukan lagi.
'Wah..wah...kalau ada apa-apa gawat nih' Pikir ku dalam hati.
Malam semakin larut.Aku terbaring menggigil di samping Mr. Pendi. Gigiku gemerentak menahan dingin. Sleeping back, terasa dingin di kaki ku. Mungkin kena embun. Tak kuhitung lagi berapa kali Mr. Pendi buang air kecil. Sekeliling bivak dijadikan sasarannya. Hmmmmm...tau sendiri bau nya. Aku terlelap sejenak. Tubuh menggigil ku rapat disamping Mr. Pendi. Oohhh...Aku merindukan jaket tebal yang ku titipkan sama Ms. Murni.
Aku terbangun oleh kicauan burung. Aku dan Pendi bersegera sholat shubuh.
Hari semakin terang. Suara gaduh anak-anak di pos 7 dan delapan terdengar.
"Oi...abi ngompol"
Wek....ngompol pake diumumin. Malu tau.

Wise word:
Banyak permasalahan yang sebenarnya mendidik jiwa. Menjadikan hati lebih lapang. Berjiwa besar. Jika saja di sikapi dengan arif dan bijaksana

Last Updated on Wednesday, 21 January 2009 02:04
 
NEW AMAR'S NOVEL !!!
NOVEL : NOVOBIOGRAFI
novobiografi.jpg
Academic Calendar
March 2010
M T W T F S S
1 2 3 4 5 6 7
8 9 10 11 12 13 14
15 16 17 18 19 20 21
22 23 24 25 26 27 28
29 30 31 1 2 3 4
Header Pic
left unten right unten
© 2010
Joomla! is Free Software released under the GNU General Public License.

W3C validiert